Oleh: Iwan | 8 Oktober 2011

Papua Barat


Follow kakakIWAN on Twitter


Setelah lama tidak menulis, aku coba luangkan waktu menceritakan sepenggal kisah dalam hidup #cieee. Selama 2011 ini, sudah banyak perjalanan aku lakukan di Papua Barat, mulai dari Manokwari, Sorong, Fakfak dan Teluk Bintuni. Jangan lupa, ada Raja Ampat yang penuh pesona, yang nanti akan aku ceritakan secara brutal, hahaha. Maksudnya, secara total dan apa adanya.

Pertama, aku akan bercerita tentang Papua Barat dulu. Papua Barat adalah propinsi pemekaran dari Papua (dulu Irian Jaya), dan kadang disebut Irian Jaya Barat (bukan Irian Barat ya, apalagi Irba yang di Surabaya… beda!).

Dari Wikipedia, ditulis : Papua Barat (sebelumnya Irian Jaya Barat disingkat Irjabar) adalah sebuah provinsi Indonesia yang terletak di bagian barat Pulau Papua. Ibukotanya adalah Manokwari. Nama provinsi ini sebelumnya adalah Irian Jaya Barat yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1999. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2007 tanggal 18 April 2007, nama provinsi ini diubah menjadi Papua Barat. Papua Barat dan Papua merupakan provinsi yang memperoleh status otonomi khusus.

Wilayah provinsi ini mencakup kawasan kepala burung pulau Papua dan kepulauan-kepulauan di sekelilingnya. Di sebelah utara, provinsi ini dibatasi oleh Samudra Pasifik, bagian barat berbatasan dengan provinsi Maluku Utara dan provinsi Maluku, bagian timur dibatasi oleh Teluk Cenderawasih, selatan dengan Laut Seram dan tenggara berbatasan dengan provinsi Papua.

Provinsi Papua Barat ini meski telah dijadikan provinsi tersendiri, namun tetap mendapat perlakuan khusus sebagaimana provinsi induknya. Provinsi ini juga telah mempunyai KPUD sendiri dan menyelenggarakan pemilu untuk pertama kalinya pada tanggal 5 April 2004.

Provinsi ini mempunyai potensi yang luar biasa, baik itu pertanian, pertambangan, hasil hutan maupun pariwisata. Mutiara dan rumput laut dihasilkan di kabupaten Raja Ampat sedangkan satu-satunya industri tradisional tenun ikat yang disebut kain Timor dihasilkan di kabupaten Sorong Selatan. Sirup pala harum dapat diperoleh di kabupaten Fak-Fak serta beragam potensi lainnya. Selain itu wisata alam juga menjadi salah satu andalan Irian Jaya Barat, seperti Taman Nasional Teluk Cenderawasih yang berlokasi di kabupaten Teluk Wondama. Taman Nasional ini membentang dari timur Semenanjung Kwatisore sampai utara Pulau Rumberpon dengan panjang garis pantai 500 km, luas darat mencapai 68.200 ha, luas laut 1.385.300 ha dengan rincian 80.000 ha kawasan terumbu karang dan 12.400 ha lautan.

Sementara yang aku tahu tentang Papua Barat, Propinsi ini memiliki standard hidup lebih tinggi daripada Propinsi Papua, dimana aku pernah juga berkelana, di Merauke, Boven Digul dan Mappi, meski secara umum, keadaan mereka juga tidak jauh berbeda, dari sisi kehidupan sosial, pendidikan dan kesehatan. Tapi, dari berbagai kota yang ada di Papua Barat, relatif lebih maju daripada Papua. Itu pengamatanku.

Papua Barat dengan Manokwari sebagai ibukotanya, juga punya tim Sepakbola tangguh di masa jayanya, yaitu Perseman Manokwari. Mereka mempunyai lapangan bola yang cukup megah sebagai home base di tengah kota Manokwari, yang bernama Stadion Essau Sessa, yang berkapasitas 15.000 penonton. Lumayan besar untuk kota Manokwari, meskipun jangan meremehkan antusiasme para pendukung yang selalu memenuhi tempat duduk di stadion ini.

Perjalanan menuju ibukota Propinsi Papua Barat ini, bisa memakan waktu sekitar 7 jam dari Jakarta sudah termasuk transit di Makassar dan Sorong. Maskapai penerbangan yang melayani jalur ini pun sudah cukup banyak antara lain, Batavia Air, Lion Air, Express Air dan Merpati, serta paling bontot Sriwijaya Air. Harga tiket bervariasi, paling murah sekitar 2 Juta rupiah dan bisa mencapai 4 juta saat peak season, misalnya Lebaran atau Natal. Untuk moda transportasi lain, bisa menggunakan angkutan laut, menggunakan kapal Pelni, misalnya KM. Dobonsolo, KM. Labobar dan KM Sinabung, dengan harga tiket untuk ekonomi sekitar Rp.800.000-an dan lebih dari 3juta Rupiah untuk kelas Satu (eksekutif). Perjalanan dengan kapal laut dapat ditempuh sekitar 5 hari – 1 minggu dari Jakarta ke Manokwari. Tidak ada perbedaan waktu sampai, antara kelas ekonomi dan eksekutif.. ahay!

Sedangkan untuk penginapan, tidak susahlah mencari hotel dan penginapan di Manokwari. Penginapan, losmen dan guest house, banyak tersebar di Kota Manokwari. Sedangkan untuk pilihan hotel yang bagus, ada 2 hotel internasional, yaitu Swissbell Hotel yang terletak di jantung kota dan Aston Internasional Hotel yang terletak di pinggiran, tetapi sangat dekat dengan Bandar Udara Rendani, Manokwari. Aku memilih menginap di Swisbell hotel, karena kemudahan akses dan berdempetan dengan Hadi Supermarket serta KFC, yang sangat membantu apabila kelaparan butuh logistik. Saking seringnya menginap di Swissbell ini, jadi akrab dengan para karyawannya. Jadi temen pulak.

Ada lagi satu hotel bagus, sederhana tapi mempunyai view yang bagus, karena berada tepat di bibir pantai. Namanya, Mansinam Beach Resort Hotel. Hotel ini bertarif cukup murah, sekitar 300ribu rupiah untuk kamar standar. Yang membuat istimewa hotel ini adalah menu fresh seafoodnya, yang sangat menggoda untuk para penikmat makanan laut. Ada udang, kerang, ikan berbagai jenis dan kepiting… Hmmm, yummy!!

Kalo mau bawa oleh oleh dari Manokwari, ada kue khas kota ini, yaitu Bolu Gulung isi Abon yang diproduksi oleh toko kue Hawaii. Bolu gulung ini hanya ada di Manokwari (tapi sekarang sepertinya sudah ada kue sejenis di Sorong). Harganya murah, 10.000 rupiah satu potong, sedangkan 1 box isi 20 kue dihargai 180.000 rupiah. Cocok buat oleh oleh dan tahan hingga 3 hari dalam suhu ruangan.

Satu lagi buah khas di Manokwari adalah durian (duren). Dengan rasa khas manis sedikit pahit, sayang rasanya melewatkan buah yang satu ini. Harga di pasar Wosi, bisa mencapai 50.000 rupiah per buah besar, tapi kalau mau yang lebih murah dan segar, datang langsung ke kebun masyarakat di dekat Pantai Pasir Putih. Disini bisa beli langsung ke masyarakat dengan harga 10.000 rupiah untuk buah kecil dan 25-30 ribu untuk buah besar.

Hm, apalagi ya yang musti aku ceritakan?
Makanan, Adatnya, gadisnya (auowwww…) atau Urban Legend-nya?

About these ads

Responses

  1. ayo nulis terus, biar bisa explorasi tentang papua via tulisanmu dulu…


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.068 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: