Oleh: Iwan | 25 September 2016

My Cipali Highway crash

24 September 2016, 2 hari menjelang ulang tahun anak kembarku, kami mengalami musibah dan mukjizat dalam sebuah kecelakaan yang cukup hebat dalam perjalanan ke Cirebon di jalan tol Cipali – Jawa Barat.

Inilah Kronologinya.

10.30 : kami sekeluarga berangkat dari rumah PJMI Bintaro dan singgah di Masjid Sektor 2 untuk sarapan soto ayam di depan masjid

11.00 : masuk pintu tol Veteran arah Cikampek, kondisi lumayan padat cenderung lambat. Perut kenyang hati senang meskipun banyak hutang.

12.00 : berhenti di RA 39 untuk beli kopi di Lawson. Sedikit ngedumel, kopi gak enak aja dijual mahal. Mending kopi sachetan sama minta air panas

14.00 : kondisi km 148 arah Cerbon hujan lebat, pekat dan sepi. Kecepatanku sekitar 80-100 kpj. Tetap waspada, sambil ngobrol dan bercanda sama istriku dan anak anak. Tiba tiba, dari jalur seberang Cerbon menuju Jakarta, ada mobil pickup Grandmax plat H meluncur menyeberang parit tengah tol dan berputar seperti gasing sekitar  15-20 meter di depanku.

Jarak yg sangat dekat dan kecepatan tinggi, jalan licin dan pandangan terganggu hujan, kami sudah tidak mungkin bisa menghindar.
Dalam sepersekian detik, aku coba menghindar ke kanan dengan harapan bisa lolos meski harus masuk parit. Tapi gak keburu, coro jowone wes gak nutut. Dengan moncong yang agak mengarah ke kanan, benturan tidak bisa terhindarkan. Paling tidak, aku sudah berusaha menghindar dan menghindari tabrakan frontal dan dengan kemampuan yang tersisa, aku coba mengarahkan supaya hanya terjadi tabrak samping.

Alhamdulillah, meski benturan yg terjadi sangat keras, tidak ada satupun penumpang di mobilku yang cedera. Di depan mungkin sabuk pengaman yg membantu penyelamatan. Di belakang posisi anak2 yang lagi tiduran, jadi akhirnya keruntelan, sehingga lumayan jadi bumper yang bisa menahan.

Dlm kondisi panik dan shock, aku langsung mengecek kondisi seluruh penumpang. Setelah dipastikan semua selamat, aku cek sopir pick up yang ternyata sudah pingsan dg kepala berdarah darah. Tak kiro matek uwonge. Sinyal telepon tidak ada, SOS alias No Service, aku sempat bingung harus bagaimana lagi.

Langsung saja aku evakuasi anakku, aku tarik dan lempar ke parit yang ternyata banyak bunga bougenville yg berduri. Anakku berteriak dan menangis histeris karena panik dan sakit tertusuk duri. Aku wes gak ngreken, yang penting menjauh dari mobil, khawatir ada kendaraan tabrak belakang.

Gak lidok, 2 menit kemudian ada Toyota Hilux dengan kecepatan tinggi menyusul dari belakang. Alhamdulillah, sopirnya membanting stir ke kanan menyeberang ke jalur sebelah dan berakhir masuk ke parit/kali.. terimakasih, pilihan masuk ke parit membantu menyelamatkan anak2ku dari resiko tertabrak dari belakang.


15.30 : semua penumpang dan sopir yg terlibat accident sudahdievakuasi ke RS Mitra Plumbon Cerbon


18.00: sepiring sego sambel mendarat sebagai obat stress.. to be continued

Oleh: Iwan | 18 Juli 2016

(Re)Unifikasi basi

BackdropStageSMP.jpgApa yang terbayang dalam benak, saat teman teman lama yang menghilang berpuluh puluh tahun, tiba tiba saja datang dan menerjang tembok tembok kebisuan penghalang jarak yang tebalnya melebihi Tembok Ratapan? Apakah rasa senang yang berlebihan, ataukah justru merusak kenikmatan akan keegoisan yang tertanam dalam sebuah kata yaitu kenyamanan?

Tiba tiba saja semua datang sangat cepat, seperti air bah menerjang aquarium kaca. Pecah berserakan!! Sejak bertemu dengan Deny Patria di Magelang, 23 Desember 2015 yang lalu, cikal bakal kesenangan dan sisa sisa memory masa kecil, melambungkan angan ke awan. Kawan kawan sepermainan, kalau tidak boleh dikata senasib sepenanggungan dan seperjuangan, dengan begitu saja datang secara masif dalam medium teknologi komunikasi bernama WhatsApp. Dimulai dengan saling berbagi kontak, akhirnya perkumpulan yang tadinya berisi rasan rasan, berubah dengan cepat membentuk satu ide lama, perjumpaan (kopdar atau reuni bahasa gaulnya).

Beberapa kali bertemu, entah dengan tujuan yang sama ataukah hanya sekedar menghilangkan penat dan kesan egois, kamipun setuju untuk bertemu secara massal dan resmi. Panitia telah dibentuk, dan tanggungjawab mulai dibagi. Euforia segera saja menghampiri masing masing dari kami, seperti birahi di pagi hari. Lebaran kali ini, bakal menjadi tidak biasa, karena kami sepakat untuk mengisinya dengan Reuni. Ya, Reuni Akbar teman teman SMP kami, yang mungkin absurd. Apakah ini sebuah ajang, ajang show off, ajang CLBK, atau ajang balas dendam dan ajang ajang lainnya, aku tak tahu. Bagiku, birahi reuni ini telah memberi semangat baru, yang beberapa saat seperti mati suri. Ya, semangat untuk bertemu kawan kawan lama.

Sekolah SMP kami terletak di pedalaman Jawa Timur, tepatnya di sebuah kota kecil bernama Warujayeng – Tanjunganom Kabupaten Nganjuk dan tahun kami bertemu di tahun 1987. Sebetulnya, aku lebih setuju Reuni disebut dengan nama tahun masuk yaitu Angkatan 1987. Tapi teman teman lebih condong ke tahun kelulusan, yaitu tahun 1990. Alasannya cukup masuk akal, karena biasanya Reuni dihitung dari tahun kelulusan atau alumni. Sedangkan pendapatku kalau tahun masuk, siapapun yang masuk tahun tersebut, lulus tidak lulus, terus atau tidak meneruskan, tetaplah bagian dari kehidupan dan masa lalu kami. Tapi itu tidak penting, tidak akan sepenting kehadiran teman teman masa kecilku.

Semangat kami, yang begitu menggebu untuk bisa bertemu, diwujudkan dalam beberapa kali pertemuan untuk membuat sebuah acara yang diharapkan bisa spektakuler paling tidak bagi kami. Topi mulai diputarkan agar koin koin yang bersembunyi dalam kantong kantong bank, bisa memberdayakan kami. Tidak terlalu besar memang daya kami, tapi kami tetap berusaha memberikan apa yang kami rasa bisa. Kekuatan akan rasa kebersamaan kami, menjadi gelombang dahsyat yang memberi kami nafas panjang dan daya juang sekuat gempa berskala besar. Tanggung jawab mulai dibagikan dan tim mulai bekerja.

Namun sayang,….

Ahhh… Reuni ini terlalu gampang diselewengkan. Gemerincing koin telah membuat sang pecundang menjadi musang berbulu domba. Menafikan kemurnian semangat kebersamaan, menggunting dalam lipatan. Apakah dia terlalu pintar merayu dan meninabobokan ataukan kami yang terlalu naif? Ataukah hal seperti ini biasa terjadi dalam kehidupan? Kejujuran telah menjadi barang langka, pertemanan tidak lagi ada artinya. Kebodohan dimana mana, bahkan kami yang menjadi korban harus berdiam tak berdaya. Mana semangatmu kawan…? Ataukah bayanganku tentang idealisme pertemanan masa kecil adalah sebuah utopia yang tidak pernah mungkin ada? Karena jujur saja, aku mengenal mereka dua setengah dasawarsa yang lalu. Apakah saat ini mereka masih sama seperti dulu, naif dan lugu, ataukah sekarang telah berubah seperti banyak terjadi pada orang orang yang telah beranjak dewasa?

Aku malu. Dan tidak mau lagi ber(Re)uni lagi. Tidak ada artinya… 26 tahun tidak bertemu, akhirnya hanya dibenturkan pada kenyataan bahwa kami harus saling mengakhiri keindahan pertemuan ini dengan caci maki dan sumpah serapah karena dikibuli.

Ya, Reuni SMP-ku telah berantakan, nasi telah menjadi bara api.. kerakusan! Jika saja ada reuni lagi, dengan terpaksa aku bersikap “Katakan Tidak Pada (Re)Uni

mumet

Hari hari ini, mendung masih menggelayut di langit ekonomi dunia… (egh, kata kata pembukaan yang menakutkan, hehehe..). Harga minyak yang cenderung jatuh terlalu dalam, membuat gairah bekerja menjadi sedikit padam. Banyak orang orang pintar yang cemas, boss boss menjadi gemas dan para pekerja bawah menjadi lemas. Angin panas otak panas, orang waras jadi ganas. Apakah pertanda kemakmuran masih menjadi fatamorgana?

Harga minyak per hari ini masih di kisaran 30-an USD/barrel. Sangat mengkhawatirkan. Krisis sudah mulai terjadi. Banyak perusahaan yang mengetatkan ikat pinggang, mengurangi lemak yang menggelambir di tubuhnya. Perusahaan yang bergerak di migas benar benar dihadapkan pada pilihan yang sulit. Maju kena mundur kena, katanya. Dengan asumsi di Indonesia, biaya produksi minyak per barrel sebesar 35 USD, harga minyak kok dibawah itu, anak kecil juga bisa berhitung, apa hasilnya. Bunuh diri bo!

Di tempatku mengais rejeki, ikat pinggang benar benar sudah ditarik ke titik paling pendek, mengkeret rett. Bikin senep dan mules. Banyak orang yang tiba tiba direbut periuk nasinya. Orang orang di hutan, disuruh pulang dan gak tau kapan bisa kembali mengais rejeki disana. Alasannya efisiensi. Memang inilah resikonya kerja ikut perusahaan. Para sopirpun sudah dihabisi, sehingga mereka mungkin segera beralih menjadi pengemudi Uber atau Gojek mungkin. Mobil mobil yang mengkilat dan mentereng yang mengangkut para juragan, sudah dikembalikan kepada yang punya, karena cuma sewa. Kopi dan gula, bahkan tissue sekarang harus rela dijatah kalau tidak mau rebutan. Itulah realita.

Mungkin besok, langit akan benar benar runtuh. Hari ini mungkin orang orang yang menimba sumur minyak yang mengalami lebih dulu. Tapi waspadalah, sepertinya badai ini akan menimpa semua orang, di seluruh dunia. Mungkin juga belum banyak yang sadar, tapi langit mendung sudah terlihat jelas. Aku juga heran, apakah ekonomi yang melambat seperti diberitakan di tivi tivi yang menyebabkan harga minyak terjun bebas ataukah karena harga minyak yang terjun bebas sehingga membuat ekonomi melambat? Pengetahuanku sangat minim, seminim lagu lagu yang akan aku mainkan di trotoar jalan sore ini.

Yang aku agak tau, katanya sekarang banjir minyak. China sudah enggak lagi jor joran kulakan minyak, Amerika sudah tidak beli lagi malah menjual minyak karena sudah tau cara mengambil cadangan di sumur sumur dangkal yang disebut shale oil/gas. Iran yang lepas dari embargo sehingga bisa jualan minyak dan Arab Saudi sebagai raja minyak tetap menggelontor dunia dengan minyaknya dan mungkin akan ditambah.. Au ah.

Yang ada dalam pikiran kami orang kecil, besok kami makan apa dan apakah harapan masih ada? Seandainya langit benar benar runtuh, setidaknya kami masih bisa berharap, akan ada langit baru.. Itulah harapan🙂. Jadi ingat guyonan yang satir, Semakin pekerjaanmu tidak menyenangkan, selalu ingatlah akan cicilan. Masalahnya, kalo tidak ada pekerjaan, ya mecicil temenan!!

Hari hari ini, sepertinya harus berpikir realistis. Masa sulit sudah tiba. Sudahkah Anda siap? Sudahkah sedia payung sebelum hujan? Lebih baik pegang uang untuk jaga jaga daripada menghamburkan apa yang tersisa. Meskipun ekonomi sedang pesimis, tapi tetaplah menegakkan kepala. Tidak ada pelaut tangguh di lautan teduh! WASPADALAH, WASPADALAH!! #crott

Oleh: Iwan | 20 Januari 2016

Tour D’Java (Bagian 3 | Habis)

Tulisan ini merupakan tulisan terakhir dari rangkaian perjalanan akhir tahun 2015ku di Jawa, baik Jawa Barat, Jawa Tengah dan Yogyakarta serta Jawa Timur. Bagian terakhir ini aku akhiri di kota Batu, namun sebelum berakhir di Batu Malang, terlebih dahulu aku singgah ke pantai di Malang Selatan, yaitu Pantai Sendang Biru dan Pulau Sempu. Sendang Biru dan Pulau Sempu adalah sebuah pantai dan pulau yang terletak di Kabupaten Malang bagian selatan, dengan ombak yang ganas bergulung gulung dan suasana yang memanjakan mata bagi para penikmatnya. Pantai Selatan memang indah dengan segala misterinya.

Perjalanan dimulai lagi dari Kertosono setelah selesai mengunjungi Kota Blitar dan Pantai Tambakrejo di Blitar bagian selatan. Hari Selasa tanggal 29 Desember 2015, aku berangkat ke Surabaya sore hari jam 15.00 WIB dengan mengambil rute jalur bis antar kota, Kertosono – Surabaya melalui jalan tol baru Kertosono  – Jombang dengan pintu masuk di Bandar Kedungmulyo di sebelah timur Kali Brantas. Kota Kertosono sendiri terletak di simpang tiga perbatasan antara Kabupaten Kediri, Kabupaten Jombang dan Kabupaten Nganjuk. Terletak di pinggir sungai Brantas, dimana dahulu kala Gajah Mada dan anak buahnya sering maen ke Kertosono untuk hang out. Katanya….

 

Perjalanan dari Kertosono – Surabaya sore itu diwarnai dengan mendung dan gerimis. Sampai di Mojokerto, hujan turun dengan lebatnya. Sampai di rumahku Surabaya, kerjaan sudah menunggu, apalagi kalo bukan bersih bersih di kos kos-an. Kos? iya.. keluargaku punya kos kosan di Kedungturi selatan Pabrik Baja Ispat Indo Medaeng. Jadi, sore itu ada sedikit pekerjaan untuk menguras tandon air yang berlumut dan berkerak karena lama tidak dibersihkan. Setelah membersihkan tandon air karena ada keluhan dari penghuni kos, sore hari aku hanya beristirahat di rumah. Rencananya, aku akan berangkat ke Malang dinihari, supaya nanti sampai di Sendang Biru bisa tiba pagi hari. Menghindari macet dan jalan yang padat saja sih sebenarnya.

depot gubeng pojok

Warung Sederhana Gubeng Pojok Surabaya

Sebelum berangkat ke Sendang Biru, jam 22.30 aku mampir dulu mengisi amunisi sekaligus sambang ke warung favoritku di dekat Stasiun Gubeng Surabaya, satu warung legendaris yang sepertinya arek arek Suroboyo cukup paham saking terkenalnya, yaitu Warung Sederhana Gubeng Pojok. Menu favoritku disini adalah Pecel Lele dan Soda Gembira. Kenapa harus pecel lele? kan itu makanan standar saja? Jawabnya ada pada sambelnya.. Sambel mentah dengan warna yang merah dan kucuran jeruk nipis yang langsung disajikan di cobek. Biasanya sih, 2 porsi ludes… Cobain deh kalo gak percaya. Apalagi minumnya soda gembira, dengan gelas jumbo dan gula setrup berwarna merah, hembok…, makjrott rasane. Warung Sederhana Gubeng Pojok ini adalah warung makan yang buka 24 jam dengan menu umum Jawa Timuran dengan rasa hampir semuanya enak. Ada Rawon, Soto, Penyetan, Mie, Nasi Goreng dll. Dinamakan Gubeng Pojok, karena memang warung ini terletak di pojokan Stasiun Gubeng Surabaya. Soal harga, jangan khawatir. Suroboyo gak onok seng larang, kecuali seng larang. Hahay!!

Sehabis makan, aku berangkat dari Surabaya jam 01.00 dinihari, mobilpun meluncur menembus sepi dan gelapnya jalan tol Surabaya – Gempol. Karena kekenyangan, mata mendadak menjadi berat dan mengantuk poll!. Tidak kuat menahan kantuk, terpaksa aku masuk Rest Area di KM 26 Tol Surabaya – Gempol ini. Kuparkir mobil di RA di sekitar minimarket dan tiba-tiba aku langsung menghilang.. #clingg. Tidak butuh waktu lama untuk berpindah ke alam mimpi.

Puas ngorok dan ngecess di Rest Area, jam 05.00 WIB aku terbangun dari alam mimpi. Setelah cuci muka dan sholat Subuh, kupacu lagi mobilku menuju arah selatan. Hari masih cukup gelap dan hawa terasa dingin meski tanpa AC saat jendela mobil kubuka. Tol Gempol – Malang yang mulus dan tanpa hambatan, membuat perjalanan sangat nyaman dan cepat. Jalan yang belum terlalu padat, membawaku sampai kota Malang tidak lebih dari 1 jam. Dari Malang, aku ambil rute ke kiri dan melewati Kota Tua. Lurus ke selatan.

Sambil melihat pemandangan di sepanjang jalan, aku teringat saat pertama kali pergi ke Pantai Sendang Biru di tahun 2001, ketika ikutan Touring Motor Honda C70 dari Klub Holobis Kuntul Baris C70 Surabaya. Aku ingat ingat rute ini, tapi ternyata tidak banyak memori lain yang tersisa. Yang masih aku ingat adalah waktu itu mampir di perumahan Turen di rumah salah satu member klub C70 Malang Selatan. Oya, Turen ini adalah salah satu Kota Kecamatan di Kabupaten Malang dimana terdapat Industri Strategis Nasional yaitu PT. Pindad (Perindustrian Angkatan Darat), sebuah Pabrik Senjata Nasional yang sangat terkenal. Menurut Wikipedia, sejarah PT. Pindad berawal pada tahun 1808 didirikan sebuah bengkel peralatan militer di Surabaya dengan nama Artillerie Constructie Winkel (ACW), bengkel ini berkembang menjadi sebuah pabrik dan sesudah mengalami perubahan nama pengelola kemudian dipindahkan lokasinya ke Bandung pada tahun 1923. Sejak saat itu PT. PINDAD berubah menjadi sebuah industri alat peralatan militer yang dikelola oleh Angkatan Darat. PT. PINDAD berubah status menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan nama PT. PINDAD (Persero) pada tanggal 29 April 1983, kemudian pada tahun 1989 perusahaan ini berada dibawah pembinaan Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS) yang kemudian pada tahun 1999 berubah menjadi PT. Pakarya Industri (Persero) dan kemudian berubah lagi namanya menjadi PT. Bahana Pakarya Industri Strategis (Persero). Itu sih yang aku catut dari Wikipedia.

Dari Turen, perjalanan masih cukup jauh untuk sampai ke Sendang Biru. Namun tidak begitu terasa, karena jalanan yang meliuk liuk di perbukitan dan pemandangan yang asyik nan mendebarkan, ada di depan mata. Jurang jurang yang dalam dan jalan yang berkelok kelok, memacu adrenaline ini. Seperti kondisi di pantai selatan Jawa Timur pada umumnya, kontur daerah ini berupa perbukitan, dengan jalan kecil yang kadang harus antri untuk berbagi jalan. Disarankan agar berhati hati dan tidak memacu kendaraan di atas kecepatan yang dianjurkan. Dalam arti, jangan ngebut lah.

sendang1

Pulau Sempu (photo: setiatransport.com)

Ketika hari sudah menjelang siang, sampailah aku di pintu masuk pantai Sendang Biru yang terletak di Desa Tambakrejo Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang. Jaraknya sekitar ±70km dari Kota Malang. Pantai ini tepat berhadapan dengan Pulau Sempu, hanya terpisahkan oleh Selat Sempu yang sempit dan dengan panjang sekitar 4 kilometer. Di selat ini cocok digunakan untuk berperahu atau olahraga air lainnya karena lokasinya terlindung oleh Pulau Sempu. Oleh karena itu, biasanya pantai ini digunakan sebagai pintu masuk menuju Pulau Sempu yang terkenal dengan kealamiannya. Adanya Pulau Sempu menjadi daya tarik sendiri Pantai Sendangbiru. Pulau Sempu, merupakan Cagar Alam yang berdanau tawar penuh ikan lele di tengah hutannya dan juga danau air laut. Salah satu daya tarik pantai ini adalah pasar ikan di tempat pelelangan ikan (TPI) dan wisata naik perahu bermesin diesel berkeliling pantai.

img_5515

img_5508

img_5511

Pemandangan di Pantai Sendangbiru cukup menarik. Sebenarnya pasirnya putih yang bersih dan air lautnya yang biru jernih menjadikan pemandangan yang indah. Kapal nelayan yang berwarna-warni bersandar rapi di tepi pantai. Kapal tersebut tidak hanya digunakan sebagai sarana mencari ikan saja, namun juga disewakan untuk wisatawan. Anda bisa menyewa kapal tersebut untuk berkeliling di sekitar pantai. Biaya yang dipatok tidak terlalu mahal, hanya Rp 100.000 – 150.000 untuk kapal motor dan Rp 50.000 untuk kapal yang didayung. Di tengah laut, Anda bisa melihat ke bawah. Di sana pemandangan bawah laut jelas terlihat. Ikan-ikan kecil yang berenang di sela-sela karang membuat pengalaman Anda mengunjungi Pantai Sendangbiru tidak akan terlupakan. Perahu bisa dinaiki maksimal sampai 12 orang. Keberadaan Pantai Sendangbiru yang terkenal itu, tidak bisa lepas dari adanya sendang (sumber mata air) di bawah bukit yang airnya berwarna biru. Sendang itulah yang menjadi cikal bakal pantai tersebut dinamakan Sendangbiru hingga saat ini. Letak sendang sekitar 1 kilometer dari arah barat pantai. Dari pantai naik ke perkampungan menuju jalur lintas selatan (JLS). Di sebelah kiri JLS dari arah pantai terdapat jalan setapak menuju bawah bukit. Di situlah terdapat sumber air yang luasnya antara 10 x 8 meter dengan kedalaman 2,5 meter. Warna airnya biru. Terdapat dua sendang di kawasan tersebut. Selain Sendangbiru juga ada Sendanggambir. Namun debit air Sendangbiru lebih besar. Dari dua sendang itulah warga kawasan Sitiarjo dan sekitarnya bergantung. Disebelah barat ada Pantai Bajulmati dan Pantai Tiga Warna, yang letaknya paling hanya 500 meter dari Pantai Sendang Biru. Disini juga ada TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Pondok Kakap yang dibangun mulai tahun 1980 – 1989. Cukup lama juga. Disini juga terdapat Goa China, yang menurut Bapak Tukang Perahu, dinamakan Goa China karena ada orang China yang mati disitu. Coba kalau yang mati orang Amerika, mungkin akan dinamakan Goa Amerika. Ada ada saja…

img_5503

Sego Lodeh Sendang Biru

Masuk ke Pantai Sendang biru, kita hanya perlu membayar Rp.5000. Untuk parkir mobil juga sama, Rp.5000 yang bisa diparkir dimana saja. Yang pertama aku cari adalah warung makan, karena sudah sangat kelaparan. Ternyata, tidak terlalu banyak warung yang ada di Sendangbiru ini, meskipun ada TPI yang banyak menyediakan ikan segar. Akhirnya setelah berkeliling dan observasi, pilihanku jatuh pada sebuah warung yang berada di depan TPI. Kecil, dan tidak terlalu banyak makanan. Sebagai orang yang terbiasa hidup di kampung, tidak ada masalah dengan menu di warung ini. Sayur Lodeh dan Sambel, itulah pilihannya. Baiklah…! Setelah berkeliling dan melihat lihat pantai dan TPI serta perahu perahu yang ditambatkan disana, aku mencoba naik perahu sekedar berputar putar ke wilayah Pantai Bajul Mati dan Goa China, yang berakhir mendarat di Pantai Pulau Sempu. Sungguh keren, pantai disini memang warnanya ada tiga. Mulai dari pantai yang berwarna putih karena pasir, agak ke tengah yang berwarna hijau, dan air berwarna biru untuk perairan yang lebih dalam. Dengan biaya Rp. 150.000,00, akupun diantar ke Pulau Sempu dan dijemput 2 jam kemudian. Tukang Perahu disini akan memberikan nomor HP-nya, untuk mempermudah penjemputan dari Pulau Sempu. Pulau Sempu, disebut juga Segara Anakan (Segoro Anakan – Jawa) yang berarti Laut Kecil.

img_5581

img_5566

Tidak terasa waktu semakin sore, matahari semakin bergerak ke Barat. Sudah waktunya aku sudahi perjalanan ini. Besok sudah penghujung tahun 2015 dan aku sudah harus kembali ke kota Malang untuk meneruskan petualangan ini. (Sudah aku ceritakan dalam tulisan, di Batu nantinya aku mengalami last minute cancellation yang sudah dibererskan oleh Airbnb). Seperti di Blitar, jangan terlalu malam meninggalkan Pantai Selatan. Jalan yang berkelok tajam, jurang menganga dan minim penerangan serta lobang lobang di aspal yang bisa membuat kita terlempar kalau tidak boleh disebut rawan kecelakaan. Hati hati kawan, Jalan masih panjang.. Jangan jalan kaki!

Oleh: Iwan | 12 Januari 2016

Tour D’Java (Bagian 2 | di Blitar)

img_5434

Setelah menghabiskan sebagian besar waktuku dengan menjelajahi Yogyakarta dan Jawa Tengah, yang akan aku ceritakan kali ini adalah perjalananku di Jawa Timur. Terutama pantai pantai yang indah di wilayah Selatan, atau Pantai Selatan Segoro Kidul. Pantai Selatan di Jawa memang ganas dan eksotis, jarang disentuh bak perawan di sarang penjahit…#crott

Pantai di sepanjang wilayah selatan Jawa Timur ini, membentang mulai dari bagian Barat yaitu Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember dan Banyuwangi. Hampir sebagian besar pantai selatan tersebut berombak besar dan ganas namun eksotik, cocok untuk mereka yang menyukai olahraga surfing. Ombak yang menerjang dan menyapu pantai, sangat menantang. Dalam perjalanan akhir tahunku ini, pantai pantai yang aku datangi adalah pantai di Blitar dan Malang, semuanya ada di selatan. Iya, Pantai Laut Selatan alias Segoro Kidul.

 

Kopdar Ex SMA 1990

Setelah stand by dan sampai rumah di tanggal 25 Desember 2016 malam, kegiatan akhir pekanku di rumah emak hanyalah istirahat, pijat ke langgananku yaitu tukang pijat tradisional serta kopdar dan kopdar. Ah, kopdar ini memang enak dan perlu. Silaturahmi lah.. Silaturahmi disebutkan bisa memperpanjang umur, menambah kegantengan dan barangkali banyak rejeki. Rejeki bukan hanya duit ya, tapi teman baik, waktu yang berguna, keluarga yang rukun dan bahagia dan banyak lagi hal hal yang baik yang sering dibahas oleh para ulama dan orang pintar. Semoga doa doa baik ini menjadi nyata. Amiiinnn!

Bakso Srengat Indah. Enak tenan..!

Hari Minggu 27 Desember, jam 10.00 pagi setelah disuruh mandi sama emakku, aku sekeluarga bersama emak, kedua kakakku dan 3 ponakan, berniat mengunjungi makam Proklamator RI almarhum Ir. Soekarno di Kota Blitar Jawa Timur. Kota Blitar terletak di tenggara kotaku Kertosono, sekitar 2 jam perjalanan atau ± 75km. Rutenya adalah Kertosono ke arah selatan menuju Kota Kediri, Srengat dan Kota Blitar. Kota Srengat yang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Blitar) adalah salah satu tujuan, karena ada Bakso enak yang bernama Bakso Srengat Indah™. Bakso ini cukup nayamul ketika sebelumnya aku pernah mencobanya di Kediri. Oya, Srengat adalah kota sahabat baik, kakak dan dosenku, Om Wewey. Bakso ini sudah direkomendasikan beliau. Dan memang gak salah. Tengah hari, aku sudah mendarat dengan bahagia di TKP, Bakso Srengat Indah di depan Pegadaian Srengat, Blitar. Warung bakso ini menggunakan tenda, sudah buka dari pagi kayaknya. Udara yang panas di Blitar membuat keringat semakin deras mengucur, manakala sendok demi sendok penthol (bakso), menggelinding ke dalam perut. Belum lagi serangan sambel yang panas membara. Haujek poll! Gak usah ngiler ya, Baksonya emang enakkkk… Pilihannya ada bakso kikil, bakso biasa. Dengan tambahan tahu goreng yang empuk dan gurih. Ada gorengan (bakwan), tapi tidak ada bakso kasar atau bakso urat. Aku lupa, berapa harga bakso per porsi. Yang jelas cukup murah dan tidak akan membuatmu miskin. Don’t rich people difficult-lah.

 

Setelah rasa penasaran akan bakso enak terobati di Srengat, kami langsung berangkat menuju kota Blitar, yang tinggal 1/2 jam saja dari Srengat. Kalau mau cepat, mungkin 15 menit saja. Langsung ke jantung tujuan, Makam Proklamator, Ir. Soekarno (Bung Karno) yang terlatak di Jalan Kalasan. Segeralah kami sampai di tujuan, mesin pun kumatikan. Jariku kau genggam, seakan enggan kau lepaskan #nyanyi

img_5427

Patung Bung Karno

Makam Bung Karno pas tengah hari begini, begitu panas dan terik. Sepertinya Blitar masih kurang hujan nih di penghujung tahun ini. Oya, ternyata dari patung yang ada dan tulisan yang ada di tembok menuju makam, Bung Karno punya nama kecil Koesno. Bungkusno dalam bahasa Jawa artinya bungkuskan… Tp yang jelas, Koesno ini bukan itu artinya. Saat kendaraan kami berjalan pelan menuju makam di Jalan Kalasan No.1 Kota Blitar, kami diberhentikan oleh anak anak muda yang meminta kami untuk meminggirkan mobil dan memarkirnya di pinggir jalan. Aman sih, tapi ya gitu, masih jauh dari makam. Enggak apa apa deh, sekalian olahraga jalan kaki. Belum lama lepas dari tukang parkir, kami dihadang segerombolan ibu ibu yang menawarkan bunga tabur. Tidak terlalu mahal, hanya RP.5000.00/bungkus plastik. Ya udah, ambil 2 buat nyekar dan berdoa di makam Bapak Bangsa.

 

img_5428

Siang itu ramai sekali, meski tidak terlalu berdesak desakan. Kamipun berkesempatan untuk bisa berdoa langsung di samping makam Bung Karno. Berdoa di makam tidak lebih dari 15 menit, tapi yang jadi masalah adalah jalan keluarnya. Aduhh dek, ternyata jalan keluar dari makam ini begitu komersil bingitss. Masa, jalan keluar yang kecil itu di-setting melewati pasar pusat oleh oleh dan cinderamata. Dengan atap seng dan minim ventilasi, duh, seperti melewati kamp konsentrasi yang bisa 1 kilometer panjangnya. Untuk anak muda seperti aku saja sudah kepayahan, apalagi untuk orang setua ibuku. Kebangeten atau kebingitan yah… Plis deh! Sepanjang jalan di dalam pasar itu hampir didominasi oleh penjual oleh oleh yang sarat dengan citra Bung Karno, Marhaenisme dan juga Moncong Putih. Baik itu T-Shirt, Gantungan Kunci, Lukisan, kain dll, semuanya cenderung bermotifkan Proklamator dan sejenisnya.

img_5433Lepas dari jerat pasar oleh oleh, aku pun segera bersiap menuju selatan. Ya, ke pantai…. Selatan?? Oya, Pantai memang di Blitar Selatan. Kalau menyebut Blitar Selatan, jadi ingat dengan film Penumpasan PKI di BLitar Selatan atau Operasi Trisula. Ya, itu salah satu film wajib yang harus ditonton waktu SD atau SMP ya. Lupa. Di Blitar ini, ada beberapa pantai, tapi sepertinya arahnya sama, jalannya juga sama. Mungkin nanti pecah begitu mendekati sungai. Blitar Selatan.

Dari pusat kota Blitar menuju ke arah Pantai Selatan jaraknya kurang lebih 40km dan bisa ditempuh sekitar 1-1,5 jam dengan kontur jalan yang naik turun, meliuk liuk melewati perbukitan. Menyenangkan sekaligus mendebarkan. Jalan yang lumayan kecil dengan banyak tanjakan dan turunan, sebelah jurang… wawwww!! Sangat menantang dan meningkatkan kadar adrenalin dalam otak.

 

Ketika sudah mendekati pantai Tambakrejo, dari kejauhan dan ketinggian bukit, laut biru sudah nampak. Sangat indah. Biru membentang berbatas cakrawala. Bau air laut sudah menyeruak di udara ketika kaca mobil aku turunkan dan AC aku matikan. Pantai… oh benar benar sakaw pantai nih. Perjuangan untuk mencapai pantai ini terbayar sudah. Perjalanan yang cukup melelahkan karena harus penuh konsentrasi di jalan yang sulit, tidak berarti lagi begitu sampai di Pantai Tambakrejo. Dengan tiket masuk cuman 3000 rupiah per orang dan parkir mobil 5000 rupiah, kita bisa maen sepuasnya di pantai ini. Sebenarnya banyak pantai di Blitar ini, tapi karena terbatasnya waktu (alasan), pilihanku jatuh ke Pantai Tambakrejo di Wonotirto Wlingi Blitar ini. Dan, sekarang, waktunya narsis…!

img_5440

 

Pantai Tambakrejo ini ombaknya lumayan gede. Makanya, dilarang mandi di pantai karena tipikal pantai selatan, ombaknya ganas dan besar. Sudah banyak korban tenggelam dan terseret arus. Jangan coba coba mandi di pantai ini, kalau tidak mau terbawa ombak. Kecuali Anda seorang professional. Akupun hanya bisa bermain ombak di pinggir pantai, menunggu ombak datang dan melepasnya kembali ke lautan.

img_5444

Setelah puas bermain ombak yang datang bergulung-gulung, maka acara selanjutnya gampang ditebak. Olahraga rahang atau memamah biak, eh makan ding. Di sepanjang pantai Tambakrejo ini, banyak warung warung yang menyediakan makanan sejenis, yaitu ikan bakar dan segala masakan khas anak pantai (seafood). Ikan Bakar disini lumayan enak dan enggak mahal. Dengan duit Rp130,000.00, aku sudah bisa memesan 6 porsi ikan bakar dan es teh manis. Wenak dan murah (meski enaknya tidak istimewa). Minumannya juga bervariasi, ada es degan klamud (kelapa muda) ataupun softdrink.

img_5450

Di pantai ini, ternyata ada pasar ikannya loh. Tak jauh dari warung warung ikan bakar, jalan ke sebelah timur sekitar 300 meter, ada pasar ikan. Mungkin juga jadi TPI (Tempat Pelelangan Ikan). Karena aku tiba disini sore hari, tidak kelihatan apakah pasar ini juga berfungsi sebagai TPI. Ikan ikan yang dijual disini antara lain Tongkol, Tengiri, Tuna, bahkan Hiu. Kebanyakan sudah diasap, biar awet. Mungkin kalau pagi masih banyak ikan segar disini. Harga ikan tongkol asap per ekor 25ribu ukuran sedang dan potongan ikan tongkol per potong 7ribu untuk sekali makan, serta ada lagi yang lain misalnya iwak pe (ikan pari). Silakan coba kalau mau bawa oleh oleh dari pantai ini. Nayamul again.. Dan jangan segan untuk menawar dan pastikan ikan yang Anda beli sesuai pilihan dan tidak ditukar dengan ikan yang lebih jelek atau lebih kecil. Kemarin, emakku beli ikan asap itu, ternyata dengan alasan dihitung dan dibawa ke belakang, ternyata yang dibawa pulang kualitasnya tidak sebagus display. Moga moga enggak ditipu aja. Gak asyik kalo sudah main tipu tipu.

img_5455

 img_5452

Sebelum gelap datang, akupun segera meninggalkan pantai Tambakrejo. Berbahaya kalau hari gelap dan kita masih di perjalanan. Karena jalan yang terjal, menanjak dan kadang curam, sempit serta penerangan yang tidak ada plus ditambah dengan jurang di pinggir jalan yang sangat dalam, akan menjadi sangat berbahaya jika malam telah tiba. Sebaiknya sebelum jam 17.00 WIB, aku sarankan sudah segera meninggalkan wilayah terpencil nan eksotis ini. Luangkan waktumu datang kesini. (bersambung).

Older Posts »

Kategori