Oleh: Iwan | 10 Maret 2017

Menjajal mudik dengan Si Banteng Putih

img_3853Beberapa minggu yang lalu, tepatnya dari tanggal 22 – 28 Februari 2017, aku sempatkan diri untuk pulang ke kampung untuk menemani ibuku mempersiapkan dan mengadakan kenduri dan selamatan 1000 hari wafatnya Almarhum Bapakku, Soekatno Bin Kromoastro yang telah meninggal dunia pada tanggal 4 Juni 2014, di kota kecil tempat tinggal ibuku, Kertosono Jawa Timur. Perjalanan sejauh ±600 km melalui jalan darat aku tempuh sekitar 15 jam dengan si Banteng Putih, Mitsubishi Pajero Sport Dakar 4X2 AT yang sekarang menemaniku menggantikan si cantik putih Livina yang telah menyelesaikan masa pengabdiannya.

Agak agak sedikit nervous saat akan melewati Tol Cipali, dimana akhir September 2016 yang lalu, tepatnya di KM148 arah Cirebon, aku sekeluarga mengalami kecelakaan yang lumayan fatal, terutama hancurnya mobil Grand Livinaku B1702WFN. Tetapi, aku bisa melewati perjalanan di tol Cipali tersebut dengan lancar, toh aku juga seudah beberapa kali melewati tol tersebut pasca kecelakaan, meskipun disopiri orang lain. Yang pasti, aku tidak berangkat malam, dan selalu waspada dengan mengambil jalur kiri serta menjaga kecepatan tetap diangka maksimum 100kpj. Naik naik dikit sih, tapi langsung di-warning sama istriku.

Sore sampai di Cirebon dan beristirahat serta mempersiapkan perbekalan, malam itu aku langsung lanjut berangkat menuju Jawa Timur ketika jam dinding sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Rasanya beda banget biasa bawa mobil bensin body kecil dengan mobil diesel berbadan bongsor. Memang setir agak berat, tapi di jalan yang mulus dan lancar (baca : tol), mobil jadi gak kerasa kalau sudah ngebut. Sering tiba tiba jarum di speedometer menyentuh angka 140. Masuk di daerah yang jalannya rusak di pantura Jawa Tengah, ya masih lumayan. Anggep aja main di offroad. Yang cukup terasa adalah bantingan yang cukup keras, mungkin suspensi sudah berkurang kemampuannya, maklum mobil tua (sudah 5 tahun usianya). Dan saat ada goncangan atau pas belok dengan kecepatan agak kencang, mobil terasa limbung. Kayaknya perlu dipasangi swaybar atau juga ditambah strutbar. Tar kita tanya sama ahlinya.

Memasuki kota Semarang di Jawa Tengah, sebelum Subuh, sekitar jam 04.00 pagi. Jalan tol Semarang – Bawen yang sepi dan lengang, dan mata yang cukup berat untuk melek, membawaku beristirahat di Rest Area Pintu Tol Bawen. Sambil istirahat setelah sholat Subuh, udara sangat segar dan dingin. Ghea Rhea terbangun dan bermain main kegirangan, mendapatkan udara segar di pegunungan pagi hari. Jarak ke Kertosono masih jauh, mungkin bisa setengah harian lagi. Rute yang masih harus dilewati adalah Salatiga, Gemolong, Sragen, Ngawi, Caruban, Nganjuk baru Kertosono. Sengaja menghindari masuk kota Solo, lumayan lewat Tingkir Salatiga arah Gemolong Sragen, menghemat 80 km. Di daerah Gemolong, Sragen, jalan begitu hancur oleh masifnya aktifitas pembangunan tol trans Jawa, Solo – Kertosono. Ya maklumlah, namanya pembangunan, akan membawa konsekuensi pengorbanan.. ciyeeee.

Melewati kota Sragen, sudah cukup siang. Jalanan juga tidak terlalu bagus, seperti yang aku bilang tadi, efek dari pembangunan Tol Trans Jawa dan sampai di rumah ibuku jam 12.00 siang, saat datang waktu Duhur. Lumayan, perjalanan dari Jakarta meskipun tidak terlalu ngebut dan banyak berhenti, secara total kurang lebih hanya 15 jam. Secara umum, kalau boleh diceritakan, Mitsubishi Pajero Sport Dakar 4×2 ini, cukup irit. Dengan konsumsi yang aku catat, per Liter Pertamina Dex mencapai jelajah 11.8km, ini adalah pencapaian yang cukup bagus, dengan kapasitas mesin 2500cc. Kalau di Livina terdahulu, untuk luar kota, pernah maksimum dapat 1 liter = 24 km, Pertamax dengan kapasitas mesin 1500cc. Aku sengaja tidak mengisi dengan solar truk atau biosolar, daripada nanti bermasalah. Yang aku baca sih, Pajero tidak masalah mengkonsumsi biosolar, tapi ya kalau mau awet sih pake yang cetane-nya sesuai, rekomendasi pake Dex atau minimum Dexlite.

Sepulang dari Kertosono, aku mencoba jalur balik melalui jalan yang agak menantang. Via jalur tengah membelah Gunung Lawu, dari Madiun, menuju Magetan, Sarangan dan Tawangmangu Jawa Tengah. Kondisi jalan yang menanjak dan berliku liku, cuaca yang lumayan gelap serta hujan, jalanan basah dan licin, sebuah kombinasi yang pas untuk menjajal banteng Mitsubishi ini. Meski anak anak dan istriku agak ngeri ngeri sedap, tapi trek ini bisa dilibas dengan nyaman. Jalur jalur menanjak mulai dari Plaosan Magetan, Telaga Sarangan, Cemorosewu, Grojogansewu, Tawangmangu hingga melandai di Karanganyar, tidak ada masalah. Yang mungkin jadi PR adalah setir yang agak berat, jadi tangan agak capek. Mungkin perlu spooring dan balancing atau minimum mengisi ulang tekanan angin di ban. Di Pasar Plaosan Magetan , satu trek dibawah Telaga Sarangan, berhenti untuk mengisi perut. Cari Bakso lah, untuk pengganjal perut. Jawa Timur memang terkenal baksonya, tapi di sekitar Telaga Sarangan ini apakah baksonya bisa dibanggakan? Di pasar Plaosan, asal masuk aja warung bakso, ternyata memang gak begitu istimewa, hahaha. Yang penting, kenyang deh!

Perjalanan mudik menjajal banteng Pajero kali ini berjalan dengan mulus dan tenang. Karena musim hujan saja, jadi agak mengurangi kecepatan, karena hujan yang turun benar benar lebat. Setelah melewati Solo Jawa Tengah dan memasuki perbatasan Solo – Boyolali, hujan turun demikian besar dan langit gelap. Bahkan, disalah satu tempat yang aku lewati, terjadi hubungan singkat (konsleting) dari kabel listrik tegangan tinggi, sehingga menimbulkan suara ledakan dan bunga api yang lumayan besar. Orang orang pada panik berlarian. Sambil berhenti menunggu hujan reda, mampirlah di Sop Ayam Pak Min Klaten. Ini juara dan pasti enak. Hujan hujan, Sop Dada Pecok dengan tambahan Ceker Ayam yang hangat dan pedas.. wow! Nikmat Tuhan manalagi yang akan engkau dustakan. Alhamdulillah. Untuk Anda penggemar Sop Ayam Pak Min Klaten, pasti tau, bagaimana rasa Sop Ayam yang ini. Benar benar menggairahkan. Sayang, mungkin dengan mahalnya harga cabe rawit, level pedas yang aku harapkan dari sensasi sambel sopnya, tidak aku temukan disini. #Akurapopo

img_3918

Eh, mau tau muatan si Banteng kali ini? Inilah.. hahahaha! The Krupuk Upils (e1)
img_3904

Oleh: Iwan | 25 September 2016

My Cipali Highway crash

24 September 2016, 2 hari menjelang ulang tahun anak kembarku, kami mengalami musibah dan mukjizat dalam sebuah kecelakaan yang cukup hebat dalam perjalanan ke Cirebon di jalan tol Cipali – Jawa Barat.

Inilah Kronologinya.

10.30 : kami sekeluarga berangkat dari rumah PJMI Bintaro dan singgah di Masjid Sektor 2 untuk sarapan soto ayam di depan masjid

11.00 : masuk pintu tol Veteran arah Cikampek, kondisi lumayan padat cenderung lambat. Perut kenyang hati senang meskipun banyak hutang.

12.00 : berhenti di RA 39 untuk beli kopi di Lawson. Sedikit ngedumel, kopi gak enak aja dijual mahal. Mending kopi sachetan sama minta air panas

14.00 : kondisi km 148 arah Cerbon hujan lebat, pekat dan sepi. Kecepatanku sekitar 80-100 kpj. Tetap waspada, sambil ngobrol dan bercanda sama istriku dan anak anak. Tiba tiba, dari jalur seberang Cerbon menuju Jakarta, ada mobil pickup Grandmax plat H meluncur menyeberang parit tengah tol dan berputar seperti gasing sekitar  15-20 meter di depanku.

Jarak yg sangat dekat dan kecepatan tinggi, jalan licin dan pandangan terganggu hujan, kami sudah tidak mungkin bisa menghindar.
Dalam sepersekian detik, aku coba menghindar ke kanan dengan harapan bisa lolos meski harus masuk parit. Tapi gak keburu, coro jowone wes gak nutut. Dengan moncong yang agak mengarah ke kanan, benturan tidak bisa terhindarkan. Paling tidak, aku sudah berusaha menghindar dan menghindari tabrakan frontal dan dengan kemampuan yang tersisa, aku coba mengarahkan supaya hanya terjadi tabrak samping.

Alhamdulillah, meski benturan yg terjadi sangat keras, tidak ada satupun penumpang di mobilku yang cedera. Di depan mungkin sabuk pengaman yg membantu penyelamatan. Di belakang posisi anak2 yang lagi tiduran, jadi akhirnya keruntelan, sehingga lumayan jadi bumper yang bisa menahan.

Dlm kondisi panik dan shock, aku langsung mengecek kondisi seluruh penumpang. Setelah dipastikan semua selamat, aku cek sopir pick up yang ternyata sudah pingsan dg kepala berdarah darah. Tak kiro matek uwonge. Sinyal telepon tidak ada, SOS alias No Service, aku sempat bingung harus bagaimana lagi.

Langsung saja aku evakuasi anakku, aku tarik dan lempar ke parit yang ternyata banyak bunga bougenville yg berduri. Anakku berteriak dan menangis histeris karena panik dan sakit tertusuk duri. Aku wes gak ngreken, yang penting menjauh dari mobil, khawatir ada kendaraan tabrak belakang.

Gak lidok, 2 menit kemudian ada Toyota Hilux dengan kecepatan tinggi menyusul dari belakang. Alhamdulillah, sopirnya membanting stir ke kanan menyeberang ke jalur sebelah dan berakhir masuk ke parit/kali.. terimakasih, pilihan masuk ke parit membantu menyelamatkan anak2ku dari resiko tertabrak dari belakang.


15.30 : semua penumpang dan sopir yg terlibat accident sudahdievakuasi ke RS Mitra Plumbon Cerbon


18.00: sepiring sego sambel mendarat sebagai obat stress.. to be continued

Oleh: Iwan | 18 Juli 2016

(Re)Unifikasi basi

BackdropStageSMP.jpgApa yang terbayang dalam benak, saat teman teman lama yang menghilang berpuluh puluh tahun, tiba tiba saja datang dan menerjang tembok tembok kebisuan penghalang jarak yang tebalnya melebihi Tembok Ratapan? Apakah rasa senang yang berlebihan, ataukah justru merusak kenikmatan akan keegoisan yang tertanam dalam sebuah kata yaitu kenyamanan?

Tiba tiba saja semua datang sangat cepat, seperti air bah menerjang aquarium kaca. Pecah berserakan!! Sejak bertemu dengan Deny Patria di Magelang, 23 Desember 2015 yang lalu, cikal bakal kesenangan dan sisa sisa memory masa kecil, melambungkan angan ke awan. Kawan kawan sepermainan, kalau tidak boleh dikata senasib sepenanggungan dan seperjuangan, dengan begitu saja datang secara masif dalam medium teknologi komunikasi bernama WhatsApp. Dimulai dengan saling berbagi kontak, akhirnya perkumpulan yang tadinya berisi rasan rasan, berubah dengan cepat membentuk satu ide lama, perjumpaan (kopdar atau reuni bahasa gaulnya).

Beberapa kali bertemu, entah dengan tujuan yang sama ataukah hanya sekedar menghilangkan penat dan kesan egois, kamipun setuju untuk bertemu secara massal dan resmi. Panitia telah dibentuk, dan tanggungjawab mulai dibagi. Euforia segera saja menghampiri masing masing dari kami, seperti birahi di pagi hari. Lebaran kali ini, bakal menjadi tidak biasa, karena kami sepakat untuk mengisinya dengan Reuni. Ya, Reuni Akbar teman teman SMP kami, yang mungkin absurd. Apakah ini sebuah ajang, ajang show off, ajang CLBK, atau ajang balas dendam dan ajang ajang lainnya, aku tak tahu. Bagiku, birahi reuni ini telah memberi semangat baru, yang beberapa saat seperti mati suri. Ya, semangat untuk bertemu kawan kawan lama.

Sekolah SMP kami terletak di pedalaman Jawa Timur, tepatnya di sebuah kota kecil bernama Warujayeng – Tanjunganom Kabupaten Nganjuk dan tahun kami bertemu di tahun 1987. Sebetulnya, aku lebih setuju Reuni disebut dengan nama tahun masuk yaitu Angkatan 1987. Tapi teman teman lebih condong ke tahun kelulusan, yaitu tahun 1990. Alasannya cukup masuk akal, karena biasanya Reuni dihitung dari tahun kelulusan atau alumni. Sedangkan pendapatku kalau tahun masuk, siapapun yang masuk tahun tersebut, lulus tidak lulus, terus atau tidak meneruskan, tetaplah bagian dari kehidupan dan masa lalu kami. Tapi itu tidak penting, tidak akan sepenting kehadiran teman teman masa kecilku.

Semangat kami, yang begitu menggebu untuk bisa bertemu, diwujudkan dalam beberapa kali pertemuan untuk membuat sebuah acara yang diharapkan bisa spektakuler paling tidak bagi kami. Topi mulai diputarkan agar koin koin yang bersembunyi dalam kantong kantong bank, bisa memberdayakan kami. Tidak terlalu besar memang daya kami, tapi kami tetap berusaha memberikan apa yang kami rasa bisa. Kekuatan akan rasa kebersamaan kami, menjadi gelombang dahsyat yang memberi kami nafas panjang dan daya juang sekuat gempa berskala besar. Tanggung jawab mulai dibagikan dan tim mulai bekerja.

Namun sayang,….

Ahhh… Reuni ini terlalu gampang diselewengkan. Gemerincing koin telah membuat sang pecundang menjadi musang berbulu domba. Menafikan kemurnian semangat kebersamaan, menggunting dalam lipatan. Apakah dia terlalu pintar merayu dan meninabobokan ataukan kami yang terlalu naif? Ataukah hal seperti ini biasa terjadi dalam kehidupan? Kejujuran telah menjadi barang langka, pertemanan tidak lagi ada artinya. Kebodohan dimana mana, bahkan kami yang menjadi korban harus berdiam tak berdaya. Mana semangatmu kawan…? Ataukah bayanganku tentang idealisme pertemanan masa kecil adalah sebuah utopia yang tidak pernah mungkin ada? Karena jujur saja, aku mengenal mereka dua setengah dasawarsa yang lalu. Apakah saat ini mereka masih sama seperti dulu, naif dan lugu, ataukah sekarang telah berubah seperti banyak terjadi pada orang orang yang telah beranjak dewasa?

Aku malu. Dan tidak mau lagi ber(Re)uni lagi. Tidak ada artinya… 26 tahun tidak bertemu, akhirnya hanya dibenturkan pada kenyataan bahwa kami harus saling mengakhiri keindahan pertemuan ini dengan caci maki dan sumpah serapah karena dikibuli.

Ya, Reuni SMP-ku telah berantakan, nasi telah menjadi bara api.. kerakusan! Jika saja ada reuni lagi, dengan terpaksa aku bersikap “Katakan Tidak Pada (Re)Uni

mumet

Hari hari ini, mendung masih menggelayut di langit ekonomi dunia… (egh, kata kata pembukaan yang menakutkan, hehehe..). Harga minyak yang cenderung jatuh terlalu dalam, membuat gairah bekerja menjadi sedikit padam. Banyak orang orang pintar yang cemas, boss boss menjadi gemas dan para pekerja bawah menjadi lemas. Angin panas otak panas, orang waras jadi ganas. Apakah pertanda kemakmuran masih menjadi fatamorgana?

Harga minyak per hari ini masih di kisaran 30-an USD/barrel. Sangat mengkhawatirkan. Krisis sudah mulai terjadi. Banyak perusahaan yang mengetatkan ikat pinggang, mengurangi lemak yang menggelambir di tubuhnya. Perusahaan yang bergerak di migas benar benar dihadapkan pada pilihan yang sulit. Maju kena mundur kena, katanya. Dengan asumsi di Indonesia, biaya produksi minyak per barrel sebesar 35 USD, harga minyak kok dibawah itu, anak kecil juga bisa berhitung, apa hasilnya. Bunuh diri bo!

Di tempatku mengais rejeki, ikat pinggang benar benar sudah ditarik ke titik paling pendek, mengkeret rett. Bikin senep dan mules. Banyak orang yang tiba tiba direbut periuk nasinya. Orang orang di hutan, disuruh pulang dan gak tau kapan bisa kembali mengais rejeki disana. Alasannya efisiensi. Memang inilah resikonya kerja ikut perusahaan. Para sopirpun sudah dihabisi, sehingga mereka mungkin segera beralih menjadi pengemudi Uber atau Gojek mungkin. Mobil mobil yang mengkilat dan mentereng yang mengangkut para juragan, sudah dikembalikan kepada yang punya, karena cuma sewa. Kopi dan gula, bahkan tissue sekarang harus rela dijatah kalau tidak mau rebutan. Itulah realita.

Mungkin besok, langit akan benar benar runtuh. Hari ini mungkin orang orang yang menimba sumur minyak yang mengalami lebih dulu. Tapi waspadalah, sepertinya badai ini akan menimpa semua orang, di seluruh dunia. Mungkin juga belum banyak yang sadar, tapi langit mendung sudah terlihat jelas. Aku juga heran, apakah ekonomi yang melambat seperti diberitakan di tivi tivi yang menyebabkan harga minyak terjun bebas ataukah karena harga minyak yang terjun bebas sehingga membuat ekonomi melambat? Pengetahuanku sangat minim, seminim lagu lagu yang akan aku mainkan di trotoar jalan sore ini.

Yang aku agak tau, katanya sekarang banjir minyak. China sudah enggak lagi jor joran kulakan minyak, Amerika sudah tidak beli lagi malah menjual minyak karena sudah tau cara mengambil cadangan di sumur sumur dangkal yang disebut shale oil/gas. Iran yang lepas dari embargo sehingga bisa jualan minyak dan Arab Saudi sebagai raja minyak tetap menggelontor dunia dengan minyaknya dan mungkin akan ditambah.. Au ah.

Yang ada dalam pikiran kami orang kecil, besok kami makan apa dan apakah harapan masih ada? Seandainya langit benar benar runtuh, setidaknya kami masih bisa berharap, akan ada langit baru.. Itulah harapan :). Jadi ingat guyonan yang satir, Semakin pekerjaanmu tidak menyenangkan, selalu ingatlah akan cicilan. Masalahnya, kalo tidak ada pekerjaan, ya mecicil temenan!!

Hari hari ini, sepertinya harus berpikir realistis. Masa sulit sudah tiba. Sudahkah Anda siap? Sudahkah sedia payung sebelum hujan? Lebih baik pegang uang untuk jaga jaga daripada menghamburkan apa yang tersisa. Meskipun ekonomi sedang pesimis, tapi tetaplah menegakkan kepala. Tidak ada pelaut tangguh di lautan teduh! WASPADALAH, WASPADALAH!! #crott

Oleh: Iwan | 20 Januari 2016

Tour D’Java (Bagian 3 | Habis)

Tulisan ini merupakan tulisan terakhir dari rangkaian perjalanan akhir tahun 2015ku di Jawa, baik Jawa Barat, Jawa Tengah dan Yogyakarta serta Jawa Timur. Bagian terakhir ini aku akhiri di kota Batu, namun sebelum berakhir di Batu Malang, terlebih dahulu aku singgah ke pantai di Malang Selatan, yaitu Pantai Sendang Biru dan Pulau Sempu. Sendang Biru dan Pulau Sempu adalah sebuah pantai dan pulau yang terletak di Kabupaten Malang bagian selatan, dengan ombak yang ganas bergulung gulung dan suasana yang memanjakan mata bagi para penikmatnya. Pantai Selatan memang indah dengan segala misterinya.

Perjalanan dimulai lagi dari Kertosono setelah selesai mengunjungi Kota Blitar dan Pantai Tambakrejo di Blitar bagian selatan. Hari Selasa tanggal 29 Desember 2015, aku berangkat ke Surabaya sore hari jam 15.00 WIB dengan mengambil rute jalur bis antar kota, Kertosono – Surabaya melalui jalan tol baru Kertosono  – Jombang dengan pintu masuk di Bandar Kedungmulyo di sebelah timur Kali Brantas. Kota Kertosono sendiri terletak di simpang tiga perbatasan antara Kabupaten Kediri, Kabupaten Jombang dan Kabupaten Nganjuk. Terletak di pinggir sungai Brantas, dimana dahulu kala Gajah Mada dan anak buahnya sering maen ke Kertosono untuk hang out. Katanya….

 

Perjalanan dari Kertosono – Surabaya sore itu diwarnai dengan mendung dan gerimis. Sampai di Mojokerto, hujan turun dengan lebatnya. Sampai di rumahku Surabaya, kerjaan sudah menunggu, apalagi kalo bukan bersih bersih di kos kos-an. Kos? iya.. keluargaku punya kos kosan di Kedungturi selatan Pabrik Baja Ispat Indo Medaeng. Jadi, sore itu ada sedikit pekerjaan untuk menguras tandon air yang berlumut dan berkerak karena lama tidak dibersihkan. Setelah membersihkan tandon air karena ada keluhan dari penghuni kos, sore hari aku hanya beristirahat di rumah. Rencananya, aku akan berangkat ke Malang dinihari, supaya nanti sampai di Sendang Biru bisa tiba pagi hari. Menghindari macet dan jalan yang padat saja sih sebenarnya.

depot gubeng pojok

Warung Sederhana Gubeng Pojok Surabaya

Sebelum berangkat ke Sendang Biru, jam 22.30 aku mampir dulu mengisi amunisi sekaligus sambang ke warung favoritku di dekat Stasiun Gubeng Surabaya, satu warung legendaris yang sepertinya arek arek Suroboyo cukup paham saking terkenalnya, yaitu Warung Sederhana Gubeng Pojok. Menu favoritku disini adalah Pecel Lele dan Soda Gembira. Kenapa harus pecel lele? kan itu makanan standar saja? Jawabnya ada pada sambelnya.. Sambel mentah dengan warna yang merah dan kucuran jeruk nipis yang langsung disajikan di cobek. Biasanya sih, 2 porsi ludes… Cobain deh kalo gak percaya. Apalagi minumnya soda gembira, dengan gelas jumbo dan gula setrup berwarna merah, hembok…, makjrott rasane. Warung Sederhana Gubeng Pojok ini adalah warung makan yang buka 24 jam dengan menu umum Jawa Timuran dengan rasa hampir semuanya enak. Ada Rawon, Soto, Penyetan, Mie, Nasi Goreng dll. Dinamakan Gubeng Pojok, karena memang warung ini terletak di pojokan Stasiun Gubeng Surabaya. Soal harga, jangan khawatir. Suroboyo gak onok seng larang, kecuali seng larang. Hahay!!

Sehabis makan, aku berangkat dari Surabaya jam 01.00 dinihari, mobilpun meluncur menembus sepi dan gelapnya jalan tol Surabaya – Gempol. Karena kekenyangan, mata mendadak menjadi berat dan mengantuk poll!. Tidak kuat menahan kantuk, terpaksa aku masuk Rest Area di KM 26 Tol Surabaya – Gempol ini. Kuparkir mobil di RA di sekitar minimarket dan tiba-tiba aku langsung menghilang.. #clingg. Tidak butuh waktu lama untuk berpindah ke alam mimpi.

Puas ngorok dan ngecess di Rest Area, jam 05.00 WIB aku terbangun dari alam mimpi. Setelah cuci muka dan sholat Subuh, kupacu lagi mobilku menuju arah selatan. Hari masih cukup gelap dan hawa terasa dingin meski tanpa AC saat jendela mobil kubuka. Tol Gempol – Malang yang mulus dan tanpa hambatan, membuat perjalanan sangat nyaman dan cepat. Jalan yang belum terlalu padat, membawaku sampai kota Malang tidak lebih dari 1 jam. Dari Malang, aku ambil rute ke kiri dan melewati Kota Tua. Lurus ke selatan.

Sambil melihat pemandangan di sepanjang jalan, aku teringat saat pertama kali pergi ke Pantai Sendang Biru di tahun 2001, ketika ikutan Touring Motor Honda C70 dari Klub Holobis Kuntul Baris C70 Surabaya. Aku ingat ingat rute ini, tapi ternyata tidak banyak memori lain yang tersisa. Yang masih aku ingat adalah waktu itu mampir di perumahan Turen di rumah salah satu member klub C70 Malang Selatan. Oya, Turen ini adalah salah satu Kota Kecamatan di Kabupaten Malang dimana terdapat Industri Strategis Nasional yaitu PT. Pindad (Perindustrian Angkatan Darat), sebuah Pabrik Senjata Nasional yang sangat terkenal. Menurut Wikipedia, sejarah PT. Pindad berawal pada tahun 1808 didirikan sebuah bengkel peralatan militer di Surabaya dengan nama Artillerie Constructie Winkel (ACW), bengkel ini berkembang menjadi sebuah pabrik dan sesudah mengalami perubahan nama pengelola kemudian dipindahkan lokasinya ke Bandung pada tahun 1923. Sejak saat itu PT. PINDAD berubah menjadi sebuah industri alat peralatan militer yang dikelola oleh Angkatan Darat. PT. PINDAD berubah status menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan nama PT. PINDAD (Persero) pada tanggal 29 April 1983, kemudian pada tahun 1989 perusahaan ini berada dibawah pembinaan Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS) yang kemudian pada tahun 1999 berubah menjadi PT. Pakarya Industri (Persero) dan kemudian berubah lagi namanya menjadi PT. Bahana Pakarya Industri Strategis (Persero). Itu sih yang aku catut dari Wikipedia.

Dari Turen, perjalanan masih cukup jauh untuk sampai ke Sendang Biru. Namun tidak begitu terasa, karena jalanan yang meliuk liuk di perbukitan dan pemandangan yang asyik nan mendebarkan, ada di depan mata. Jurang jurang yang dalam dan jalan yang berkelok kelok, memacu adrenaline ini. Seperti kondisi di pantai selatan Jawa Timur pada umumnya, kontur daerah ini berupa perbukitan, dengan jalan kecil yang kadang harus antri untuk berbagi jalan. Disarankan agar berhati hati dan tidak memacu kendaraan di atas kecepatan yang dianjurkan. Dalam arti, jangan ngebut lah.

sendang1

Pulau Sempu (photo: setiatransport.com)

Ketika hari sudah menjelang siang, sampailah aku di pintu masuk pantai Sendang Biru yang terletak di Desa Tambakrejo Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang. Jaraknya sekitar ±70km dari Kota Malang. Pantai ini tepat berhadapan dengan Pulau Sempu, hanya terpisahkan oleh Selat Sempu yang sempit dan dengan panjang sekitar 4 kilometer. Di selat ini cocok digunakan untuk berperahu atau olahraga air lainnya karena lokasinya terlindung oleh Pulau Sempu. Oleh karena itu, biasanya pantai ini digunakan sebagai pintu masuk menuju Pulau Sempu yang terkenal dengan kealamiannya. Adanya Pulau Sempu menjadi daya tarik sendiri Pantai Sendangbiru. Pulau Sempu, merupakan Cagar Alam yang berdanau tawar penuh ikan lele di tengah hutannya dan juga danau air laut. Salah satu daya tarik pantai ini adalah pasar ikan di tempat pelelangan ikan (TPI) dan wisata naik perahu bermesin diesel berkeliling pantai.

img_5515

img_5508

img_5511

Pemandangan di Pantai Sendangbiru cukup menarik. Sebenarnya pasirnya putih yang bersih dan air lautnya yang biru jernih menjadikan pemandangan yang indah. Kapal nelayan yang berwarna-warni bersandar rapi di tepi pantai. Kapal tersebut tidak hanya digunakan sebagai sarana mencari ikan saja, namun juga disewakan untuk wisatawan. Anda bisa menyewa kapal tersebut untuk berkeliling di sekitar pantai. Biaya yang dipatok tidak terlalu mahal, hanya Rp 100.000 – 150.000 untuk kapal motor dan Rp 50.000 untuk kapal yang didayung. Di tengah laut, Anda bisa melihat ke bawah. Di sana pemandangan bawah laut jelas terlihat. Ikan-ikan kecil yang berenang di sela-sela karang membuat pengalaman Anda mengunjungi Pantai Sendangbiru tidak akan terlupakan. Perahu bisa dinaiki maksimal sampai 12 orang. Keberadaan Pantai Sendangbiru yang terkenal itu, tidak bisa lepas dari adanya sendang (sumber mata air) di bawah bukit yang airnya berwarna biru. Sendang itulah yang menjadi cikal bakal pantai tersebut dinamakan Sendangbiru hingga saat ini. Letak sendang sekitar 1 kilometer dari arah barat pantai. Dari pantai naik ke perkampungan menuju jalur lintas selatan (JLS). Di sebelah kiri JLS dari arah pantai terdapat jalan setapak menuju bawah bukit. Di situlah terdapat sumber air yang luasnya antara 10 x 8 meter dengan kedalaman 2,5 meter. Warna airnya biru. Terdapat dua sendang di kawasan tersebut. Selain Sendangbiru juga ada Sendanggambir. Namun debit air Sendangbiru lebih besar. Dari dua sendang itulah warga kawasan Sitiarjo dan sekitarnya bergantung. Disebelah barat ada Pantai Bajulmati dan Pantai Tiga Warna, yang letaknya paling hanya 500 meter dari Pantai Sendang Biru. Disini juga ada TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Pondok Kakap yang dibangun mulai tahun 1980 – 1989. Cukup lama juga. Disini juga terdapat Goa China, yang menurut Bapak Tukang Perahu, dinamakan Goa China karena ada orang China yang mati disitu. Coba kalau yang mati orang Amerika, mungkin akan dinamakan Goa Amerika. Ada ada saja…

img_5503

Sego Lodeh Sendang Biru

Masuk ke Pantai Sendang biru, kita hanya perlu membayar Rp.5000. Untuk parkir mobil juga sama, Rp.5000 yang bisa diparkir dimana saja. Yang pertama aku cari adalah warung makan, karena sudah sangat kelaparan. Ternyata, tidak terlalu banyak warung yang ada di Sendangbiru ini, meskipun ada TPI yang banyak menyediakan ikan segar. Akhirnya setelah berkeliling dan observasi, pilihanku jatuh pada sebuah warung yang berada di depan TPI. Kecil, dan tidak terlalu banyak makanan. Sebagai orang yang terbiasa hidup di kampung, tidak ada masalah dengan menu di warung ini. Sayur Lodeh dan Sambel, itulah pilihannya. Baiklah…! Setelah berkeliling dan melihat lihat pantai dan TPI serta perahu perahu yang ditambatkan disana, aku mencoba naik perahu sekedar berputar putar ke wilayah Pantai Bajul Mati dan Goa China, yang berakhir mendarat di Pantai Pulau Sempu. Sungguh keren, pantai disini memang warnanya ada tiga. Mulai dari pantai yang berwarna putih karena pasir, agak ke tengah yang berwarna hijau, dan air berwarna biru untuk perairan yang lebih dalam. Dengan biaya Rp. 150.000,00, akupun diantar ke Pulau Sempu dan dijemput 2 jam kemudian. Tukang Perahu disini akan memberikan nomor HP-nya, untuk mempermudah penjemputan dari Pulau Sempu. Pulau Sempu, disebut juga Segara Anakan (Segoro Anakan – Jawa) yang berarti Laut Kecil.

img_5581

img_5566

Tidak terasa waktu semakin sore, matahari semakin bergerak ke Barat. Sudah waktunya aku sudahi perjalanan ini. Besok sudah penghujung tahun 2015 dan aku sudah harus kembali ke kota Malang untuk meneruskan petualangan ini. (Sudah aku ceritakan dalam tulisan, di Batu nantinya aku mengalami last minute cancellation yang sudah dibererskan oleh Airbnb). Seperti di Blitar, jangan terlalu malam meninggalkan Pantai Selatan. Jalan yang berkelok tajam, jurang menganga dan minim penerangan serta lobang lobang di aspal yang bisa membuat kita terlempar kalau tidak boleh disebut rawan kecelakaan. Hati hati kawan, Jalan masih panjang.. Jangan jalan kaki!

Older Posts »

Kategori