Oleh: Iwan | 10 Februari 2010

Bagaimana aku bisa ke Papua


Bermula di akhir bulan Desember 2006. Di kantorku yang baru, di sebuah perusahaan yang berada di jalur super sibuk Jakarta, di kawasan Thamrin Jakarta Pusat. Di lantai 31 dalam ruangan yang dingin oleh hembusan angin dari mesin pendingin ruangan, cerita ini dimulai.

Perusahaan dimana aku mencari makan, sedang mengerjakan sebuah mega proyek bernilai US$ 5 Milyar, atau kalau dirupiahkan saat itu mungkin mencapai Rp. 50.000.000.000.000 (baca: limapuluh trilyun).. Fiuhhh, pasti uang yang sangat besar dan banyak. Bagaimana bisa duit sebanyak itu dihasilkan oleh keringatku sendiri ya? Mimpi kalee yeee…

Boss memanggil kami semua yang di ruangan untuk rapat dan merapat. Tetapi kami sudah cukup mengerti akan apa yang dibahas. Semua ini sudah dimulai oleh temanku si JOS (Jonatan) yang sudah lebih dulu pergi ke site (lokasi) proyek beberapa hari sebelumnya.

Untuk pembukaan lahan baru kelapa sawit atas nama Project Biofuels, hari ini Boss menawari diantara kami siapa yang mau bergabung di project ini. Project ini dinamakan Papua Project, karena lokasi project ini ada di Papua, tepatnya di Papua Selatan.

Mendengarkan cerita Jonatan, aku bersemangat. Aku berpikir, kalau tidak sekarang, kapan lagi aku dapat kesempatan ini, turun ke daerah yang sama sekali belum pernah aku datang kesana. Papua, tempat yang membuat sebagian orang merasa takut, tapi aku tidak berpikir seperti itu. Aku malah seperti mendapat sebuah tantangan. Ya, aku akan terima tantangan itu. Papua, bolehkah aku mendatangimu?

Akhirnya, setelah rapat selesai, Boss memberikan kepercayaan padaku untuk bergabung di project ini, bersama Johny, Haryanto, Bagus, Suratman, Koko dan tentu saja Jonatan, sang pelopor. Target sudah ditetapkan, rencana harus dijalankan. Kita akan berangkat ke Papua tanggal 27 Januari 2007.

Ini adalah perjalanan panjang pertama yang aku tempuh selama ini. Dari Jakarta sampai ke Jayapura memakan waktu lebih kurang 7 jam, lebih jauh daripada Jakarta – Tokyo (katanya) yang cuma 6 jam. Siap siap deh.

Sebelum berangkat, kami diperkenalkan dulu dengan Papua Project Director, pak Aan Selamat. Diskusi demi diskusi mengalir untuk membekali perjalanan pertama kami ke Papua. Ada satu pesan dari pak Aan yang aku ingat sampai sekarang.

Pesannya: Siapapun yang berangkat ke Papua, harus siap dengan 3 resiko.

1. Resiko pertama adalah Malaria, karena di Papua adalah daerah endemik Malaria.

2. Resiko kedua adalah pesawat gampang sekali jatuh, mungkin karena faktor medan dan cuaca

3. Resiko ketiga adalah siap-siap kalau ada panah beterbangan.

Memang menyeramkan kalau mengingat 3 hal di atas, tetapi tantangan yang menggelegak di dada ini mampu mengalahkan kekhawatiran itu. Papua is my next playground. Ijin dari istri sudah aku kantongi, dari keluarga juga sudah aku terima. Tunggu apa lagi. Papua akan menjadi sebuah pengembaraan panjang nanti.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: