Oleh: Iwan | 15 April 2010

Mempertaruhkan Nasib


Perjuangan baru saja mulai, terhenti oleh ujung pisau yang penuh darah. Tetapi aku tidak pernah menyerah, hingga saat ini.

Anak-anakku, mata hatiku, penerang dalam kegelapan rindu dan pengasah ketajaman nyali. Hanya kepadamulah Ayah berbagi, hanya kepada Tuhanlah Ayah akan mengabdi.

April berlalu dengan tenang, setenang sungai Digul dimana aku pernah terdampar. Menghilang dari pikuknya dunia, menyelam ke dasar untuk mencari mutiara. Pertarungan yang selama ini aku terima, tanpa tahu musuh berada dimana, tanpa tahu arah peluru mau kemana, telah setengah aku menangkan. Aku berdiri diujung harapan, berdiri tegak, namun menunduk dan bukan menantang.

Ada yang datang, menawarkan kembang kemenangan. Tapi aku harus memilih, bahwa medan pertempuran, dimana saat ini aku berkubang, masih menunggu aku untuk mengangkat kapak perang.

Untuk anakku, Mattahari Ghaia Kallahari dan Edellweisz Rhea Killimanjaro, aku bertahan.

Untuk Ibu mereka yang selalu mengusap lembut keringat, dan membasuh lukaku. Hidupku untuk bidadariku…


Responses

  1. hm…
    puitis banget kata – katanya..
    jadi terharu

    Suka

    • bisa aja.. curhat kok ini

      Suka

  2. Gak nyongko lek kowe isok bijak ngono wan…JEMPOL Wan.

    Suka

    • Hahaha.. iseng Nang. Lagi digempur para begundal Ass Kisser soale. Tp saiki aku wes Back to Papua!!

      Suka


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: