Oleh: Iwan | 3 September 2010

Istana Pengasingan Soekarno di Toba


Seperti yang aku tuturkan dalam tulisan sebelumnya, Soekarno (Presiden RI yang pertama) pernah ditawan dan diasingkan Belanda ke Parapat tepatnya di pinggir Danau Toba, Sumatra Utara, sekitar tahun 1948, tidak lama setelah Agresi Militer Belanda ke I. Dari beberapa tulisan akhirnya aku tahu, Bung Karno dan Syahrir di buang ke Sumatra Utara yaitu di Berastagi (Tanah Karo) dan juga di Parapat ini, kurang dari sebulan. Bahkan di Parapat yang aku kunjungi ini, mereka hanya tinggal disana selama 3 hari.

Aku tidak akan banyak bercerita tentang sejarah, karena sejarah kelam itu tidak begitu aku kuasai. Silakan googling mengenai Soekarno dan pengasingannya. Aku cuma mau cerita perjalanan yang aku lakukan di Danau Toba dan kebetulan mampir di Istana Pengasingan Soekarno. Dan sebenarnya aku pingin bercerita tentang kuliner di Toba, tapi apa daya aku datang siang hari di bulan Puasa (Ramadhan), tentulah awak tak bisa mencoba aneka makanan di sana, pakcik.. HORAS BAH, gak ada beras makanlah gabah!

Berputar putar dan berphoto photo di pinggiran danau Toba, membawa kami ke arah sebuah bangunan yang cukup megah dan klasik, khas bangunan jaman Belanda, yang tentu saja berbeda dengan bangunan bangunan baru, apalagi lapak lapak yang menjamur di pinggiran Danau Legendaris ini. Dengan pintu gerbang seperti di Film Horor, kami masuk ke area istana kecil ini. Terbayang deh, bagaimana dulu Boss Karno menghabiskan waktu disini, sepi dan tidak ada internet…

Bangunan ini terletak di tanah yang luasnya kira kira 2000 sqm (persegi). Menanjak dan terletak agak lebih tinggi dari rumah rumah lainnya. Bangunan dengan 2 lantai ini masih tampak kokoh menantang keangkuhan Danau Toba. Setelah berphoto ria dulu dengan kawan kawan seperjalanan di depan istana kecil ini, aku disambut oleh seorang perempuan tua, berjubah putih, berambut panjang, berpunggung bolong.. awwwwwwww #ngaco. Bukan lah, ada perempuan tua yang menyambut kami, dan menanyakan apakah kami akan masuk rumah ini. Ya tentu saja mau, sudah jauh jauh datang dari negeri seberang.

Kami memasuki rumah ini dari pintu belakang. Bangunan ini memang terlihat sangat kokoh, meskipun tetap tua karena mungkin kurang terawat. Yang pertama aku masuki adalah ruang makan di belakang. Ruang makan ini terlihat bersih dengan 6 buah kursi tertata rapi mengelilingi meja panjang. Tampak bahwa kursi ini sudah bukan kursi asli rumah ini, karena model dan kondisinya masih relatif baru. Lantai teraso yang cukup dingin, tampak bersih meski merupakan lantai lama yang berusia cukup lama, namun masih cukup bersih meski agak kusam. Ada wastafel warna putih di dekat pintu masuk serta kulkas dan beberapa barang barang yang merupakan budaya peradaban baru, sudah memenuhi ruang makan ini.

Melewati ruang makan, aku langsung masuk ke ruangan besar tapi bukan BallRoom, ini adalah ruangan utama atau ruang tamu. Tampak berbagai photo klasik dari bergambar Bung Karno dan Agus Salim serta beberapa orang Belanda yang menggambarkan suasana di rumah ini tahun 1948-an. Hanya photo klasik dan hitam putih, mungkin juga hasil photocopy dari Arsip Nasional, aku enggak tau. Ada 2 sofa besar disini, yang juga merupakan produk peradaban baru alias bukan asli dari jaman Bung Karno berdiam disini. Bagian dalam bangunan ini terbuat dari kayu tapi yang jelas bukan kayu manis atau kayu tangan..(lho itu kan nama Warung Bebek Goreng di Surabaya). Dengan dilapis pelitur warna natural, tampaknya pengelola ingin mempertahankan konsep asli bangunan ini. Tapi pemilihan sofa dan pengaturan materi interior tampaknya tidak mendukung konsep ini (lho ya, kok malah membahas ilmu Interior Design). Karpet Merahpun terhampar melapisi lantai bangunan yang terletak di lantai 1 ini. Sekedar pasang atau memang khusus menyambut tamu sepeti aku ini, aku juga enggak tau.. (Emang gw 108, tau segalanya..)

Aku coba naik ke atas, di atas juga terdapat ruang tamu kecil, yang di depannya terdapat sebuah BALKON yang langsung berhadapan dengan Danau Toba, wah,… sungguh indah pemandangan (jadi ingat lagu Pemandangan Tasya yang biasa dinyanyikan anak kembarku). Takjub nian aku memandangnya, siapa ya dulu yang sudah bersusah payah membangun bungalow ini. Di samping ruang tamu, terdapat 3 ranjang modern atau kasur berpegas. Ketika ibu yang jaga rumah ini aku tanya (eh, siapa ya namanya, sepertinya yang kuingat namanya Sumini, tapi bukan Sumini Racun Dunia yang terkenal itu..), kenapa barang barangnya sudah tidak asli lagi, dia mengatakan bahwa barang barang yang asli sudah diangkut oleh Mbak Megawati sang penguasa Moncong Putih itu.. oh, gitu…! Ya sudah, aku berharap Mbak Mega membawa pulang barang barang yang ada di rumah ini untuk menyelamatkannya dari kerusakan dan kerugian akibat ulah orang yang tidak bertanggunjawab dan bukan untuk ‘diamankan’. Di dalam kamar tidur tersebut terdapat kasur pegas 3 buah yang dulu kasur aslinya dipakai oleh para pengawal Bung Karno. Sedangkan Bung Karno sendiri, tidur di Pavilliun yang terletak di belakang rumah yang tampak menyerupai dapur kalau boleh aku gambarkan. Bangunan paviliun tersebut berukuran kecil, mungkin 6×4 meter, cuman aku tidak sempat memasukinya, karena hari sudah menjelang senja dan aku harus segera kembali ke Pematang Siantar.

Turun kembali dari lantai atas melalui tangga dari kayu yang melingkar setengah putaran, aku mencoba memasuki sebuah ruangan di lantai satu, tepatnya di sebuah pojokan belakang. Disana tampak ada pintu yang tertutup rapat dan agak gelap. Aku penasaran.. ada apakah di dalamnya. Dengan hati hati, aku buka pintu yang tertutup rapat itu. Bunyi derit pintu mengingatkanku pada film yang dibintangi oleh Almarhum Suzanna.. *halah. Ternyata, ruangan tersebut adalah kamar mandi saudara saudara… Kamar mandi itu cukup besar, untuk ukuran rumah ini. Mungkin luasnya 2×2 meter persegi. Meski modelnya masih tetap klasik, tetapi banyak yang berubah tampaknya, karena barang-barang yang terdapat di dalam kamar mandi ini sudah cukup modern. Ada wastafel dan shower, dengan warna putih, mungkin bermerk TOTO atau TOTO AYAM. Apakah Bung Karno dahulu mandi memakai pancuran (shower) ataukah memakai ember dan gayung, atau malah nyemplung ke Danau Toba? Au ah..

Okelah, pengalaman masuk ke Istana Pengasingan Soekarno di Parapat selesai sudah. Setelah puas mengambil gambar dan mengambil nafas dalam… fiuuhhhh.. aku segera beranjak ke mobil kijang tua yang akan membawaku kembali ke Siantar. Wah, masih harus kerja lagi ya. Nanti kalau ada yang kurang dengan tulisan ini, jangan kawatir, pasti aku edit..hihihi. Yang Siantar juga mungkin aku tambahi, mislanya tentang Becak Motor BSA dan oleh oleh khas Pematang Siantar.

Jangan lupa, masih ada seri tulisan tentang Padang Rancak Bana.. hehehe. Termasuk informasi tentang kuliner Minang yang melegenda. So stay tune di jalur angkot ini.

(Ditulis di Mayang Boutique Hotel Padang | Jumat 3 Sept 2010 jam 13:32 WIB, dimana lebaran kurang seminggu lagi dan aku masih nyangkut sini)


Responses

  1. wah..wah…jadi pengen liat langsung istana BK di Parapat… Di tunggu tulisan selanjutnya pak.

    Suka

    • Okelah kalau begitu bu… Ditunggu tulisan ngaco yang lain ya

      Suka


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: