Oleh: Iwan | 4 September 2010

Oleh Oleh dari Padang Bag.1


Akhirnya sampai juga pada tulisanku yang terakhir dari seri RoadShow Sumatra Adventuring. Namanya saja keren, Adventuring, tetapi sebenarnya hanyalah pekerjaan biasa saja dan lebih banyak menikmati keindahan dibanding susah payah bertualang. Tetapi bagiku hal ini tidak mengurangi kesenangan yang aku dapatkan saat berkelana, mengenal dan memasuki wilayah baru, orang orang baru, budaya baru dan tentu saja… makanan yang baru!

Sekembalinya dari Pematang Siantar malam malam, aku segera bergegas masuk penginapan dan tidur mendengkur seperti bayi setelah sholat tarawih. Apalagi malam itu malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadhan. Dengan menahan kantuk dan agak lapar, aku segera berbaring di ranjang empuk nan nyaman. Dan aku sepertinya yakin, bahwa aku gak bakal bisa bangun dinihari untuk sahur. Tidak apa apa, 2 gelas air lemon langsung aku tenggak untuk menuntaskan dahaga dan juga sebagai cadangan di perut buat berpuasa.

Keesokan harinya, setelah bangun dan mandi serta berkemas sebentar serta check out dari Hotel Garuda Plaza Medan, aku segera berangkat ke Bandara Polonia. Yak, aku akan segera berangkat ke Padang. Tiket Sriwijaya sudah di tangan, oleh oleh dan koper sudah masuk di bagasi, aku memasukii ruang tunggu keberangkatan Bandara Internasional di Medan ini. Jam menunjukkan pukul 15.00 ketika pesawat yang akan membawaku terbang, tampak sudah mendarat di landasan. Tidak berapa lama (lama juga kali ya…) aku sudah bersiap untuk naik ke pesawat Boeing 737 500 yang sepertinya suah uzur.. Tapi, sutralah.. gak perlu takut dan paranoid, karena toh hidup dan mati sudah ditentukan. Tapi, tetap tidak boleh lupa berdoa.

Perjalanan Medan ke Padang ditempuh kurang lebih 1 jam, dengan ketinggian jelajah maksimum 33.000 kaki dpl (eh, aku kok jadi kayak pilot ngasih pengumuman segala). Cuaca agak kurang bersahabat, karena mendung tampak hitam dan benar saja, di atas, pesawat mengalami banyak goncangan karena cuaca buruk. Turbulence cukup lama mendera pesawat ini. Anak anak kecil yang rewel dan menangus menjerit jerit, membuat frustasi sebagian penumpang. Aku?… meskipun tetap agak kurang nyaman dan sedikit grogi, aku tetap tancapkan earphone di kedua telingaku dan memutar musik pada level volume maksimal, mendengarkan Slash yang beberapa minggu sebelumnya aku telah datangi live performance-nya di Surabaya. Rock N Roll cukup membuatku agak sedikit nyaman, meskipun turbulence tetap saja mengganggu ketenangan dan kenyamananku.

Setelah hampir 1 jam menempuh perjalanan, akhirnya pesawat ini berhasil mendekati bandara Internasional Minangkabau di Padang. Hujan sangat deras membuat aku tidak bisa melihat situasi di luar dari balik jendela pesawat. Hanya tampak samar samar kota Padang dilihat dari ketinggian, tertutup derasnya air yang mengalir dari langit. Dan alhamdulillah, pesawat mendarat dengan sempurna…

Setelah membereskan urusan bagasi, aku sudah dijemput oleh pak Risman dari kantor di Padang. Meluncur di tengah hujan lebat, aku bahkan tidak bisa mengenali jalan dan daerah yang aku lewati. Apalagi aku belum pernah ke sini.. Setelah ngobrol dan basa basi dengan pak Risman, sampailah aku di sebuah rumah besar, masuk ke sebuah jalan kecil di Jl. Veteran Padang. Aku bertanya dalam hati, kok tidak dibawa ke hotel, malah dibawa ke rumah? Pertanyaanku akhirnya terjawab begitu aku masuk ke dalam rumah ini. Ohhhh, ternyata ini sebuah Boutique Hotel ya, namanya Mayang Boutique Hotel. Setelah tanpa basa basi, aku langsung menanyakan hal ini kepada pak Risman, kenapa memilih hotel rumah ini dan bukan hotel modern di pusat kota? Menurut pak Risman, setelah gempa dahsyat 7,1 skala richter yang menimpa kota Padang tahun lalu yang oleh masyarakat Padang disebut G30S atau GEMPA 30 SEPTEMBER (kreatif juga… meski tetap sedih), banyak hotel besar dan berbintang yang belum dibangun lagi. Akhirnya, naluri bisnis yang memang sudah dimiliki secara turun temurun oleh orang Minang, membawa mereka untuk membuka penginapan dan hotel dari rumah rumah yang dahulunya adalah rumah pribadi dan tidak untuk disewakan.

Meski ragu ragu, aku tetap tidak protes untuk menginap di hotel ini (lha wong tidur di bawah pohon di hutan belantara Papua saja bisa, masak di rumah megah gak mau..). Namun, keraguanku hilang ketika aku masuk ke dalam kamar hotel ini. Meski tidak terlalu mewah, nampaknya interior dan fasilitas hotel ini terbilang cukup lengkap. Mulai dari TV Kabel, Kulkas, ranjang empuk dan terpenting toilet yang bersih dan rapi. Cukup nyaman untuk tinggal disini beberapa hari.

Bagian pertama tulisan tentang Padang aku sudahi dulu sampai disini, nanti aku sambung di bagian berikutnya tentang Kota Padang dan pengalamanku disana.

(Ditulis di Mendawai 1/45 Jakarta, pada hari Sabtu 4 Sept 2010 jam 13.29 | sambil maen ke kantor untuk mengisi waktu dan bikin laporan… doh, dah mau lebaran masih saja bikin laporan..)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: