Oleh: Iwan | 7 September 2010

Oleh Oleh dari Padang Bag.2


Yak, aku lanjutkan cerita tentang Kota Padang. Setelah menyelesaikan pekerjaan yang tidak terlalu peting aku ceritakan disini, sorenya aku berbuka puasa di Rumah Makan Taman Sari yang berada di Jl. Ahmad Yani Padang, tepat berdampingan dengan Pizza Hut. Hm, cukup seru juga, makanan khas daerah bersanding dengan jaringan makanan cepat saji yang populer. Tp semua pasti sudah ada jatahnya…

Makan masakan Padang di kota Padang, rasanya tidak berbeda dengan makan nasi padang dimanapun. Tetapi mungkin suasana saja yang benar benar khas Melayu, yang tidak selalu muncul di setiap rumah makan Minang di luar Padang. Yang pasti, memang tetap enak, mungkin karena aku cukup lapar saat puasa ini… hehehe, jelas dong! Agak lebih malam, aku ketemu sama adik kelas waktu masih kuliah di Surabaya, si Winofri. Winofri ini asli anak Padang (BatuSangkar).. tapi aku gak tau Batu Sangkar ini ada dimana.. hehehe, maklum. Yang pertama kita jelajahi adalah suasana malam kota Padang.

Naek delman istimewa, kududuk di muka.. Duduk di muka pak Kusir yang sedang bekerja *eh.. Malam itu kami berputar-putar melihat keramaian Padang di waktu malam. Tetapi, yang kulihat ternyata masih banyak bangunan yang roboh bekas dari gempa besar setahun lalu yang telah meluluhlantakkan kota ini. Dimulai dari Pecinan (ChinaTown), ternyata kawasan ini memang paling parah dihajar gempa 7 skala richter lebih ini. Di samping Pecinan, tampak jembatan yang melintang kokoh, itulah jembatan Siti Nurbaya. Disampingnya, angkuh berdiri bukit Siti Nurbaya, tempat Siti Nurbaya sang legenda kekerasan rumah tangga dan kawin paksa, dimakamkan. Jadi, Siti Nurbaya lahir dan meninggal di kawasan bukit ini.

Mengamati satu persatu bangunan yang hancur dan teronggok seperti sampah, membuat miris. Terbayang bagaimana gempa ini terjadi dan korban yang meninggal terhimpit beton.. Subhanallah. Duh Gusti, nyuwun pangapunten engkang katah.

Setelah berputar-putar tak tentu arah, akhirnya aku berhenti di samping salah satu pusat keramaian di kota Padang, yaitu Ramayana Mall. Bangunan mall ini masih tampak baru, mungkin dibangun pasca gempa. Ternyata, memang bangunan ini masih baru dan dibangun setelah gempa besar tahun lalu. Tetapi, lucunya (atau lebih tepat disebut ironisnya), bangunan ini hancur dan roboh dihantam gempat tidak lama setelah diresmikan pengoperasiannya. Wah, bangunan baru direnovasi baru dong…

Di samping Ramayana Mall ini, aku dan Nofri mencoba mencari sesuatu yang layak dimakan dan khas Minang. Akhirnya pilihan jatuh pada Sate Lokan. Sate Lokan (remis atau kerang bulu.. mungkin), adalah sejenis sate yang tidak banyak dijual di luar Padang. Yang bisa aku jumpai, terutama di Jawa adalah Sate Padang dengan bahan daging sapi. Tp yang ini kerang. Di Jawa memang ada sate kerang atau sate Kul atau Kereco dan bekicot, hihihi.., mirip dengan itu. Tapi yang ini dengan bumbu khas Minang. Dengan segera satu porsi sate Lokan lewat dah… wah, malam yang dingin terobat dengan seporsi sate yang masih hangat mengepul (ya mana ada jualan sate sudah dingin.. kecuali aku, yang suka mem-freeze makanan, hehehe).

Setelah makan Sate Lokan, beredar kami menuju arah Bandar Udara Minangkabau yang berjarak cukup jauh dari pusat kota. Mungkin lebih dari 15KM dari pusat kota, kami menemukan minuman khas disini, yaitu Sekotang (kok bukan Sekoteng ya, nanti artinya beda loh) Telor. Wah mantap nih, meskipun aku tidak suka dengan telor mentah, tapi dari cara menyajikan dan bau minuman hangat ini, aku tergoda untuk mencoba 1 gelas dengan telor ayam kampuang.. Apakah aku bisa meminum minuman dengan telor ini.. mari kita lihat.

Selain sekoteng, warung ini juga menyediakan Teh Tarik, Teh Telor dan berbagai minuman lainnya, baik yang hangat maupun dingin, tradisional ataupun modern. Begitu minuman yang aku pesan jadi, dengan menutup hidung dan manrik nafas panjang, aku bersiap menelan semua telor dalam minuman dahsyat ini. Dan hasilnya…………..brrrrrrrrrrrrrr!!! Biasa aja tuh dan tetap enak…hehehe.

Ada lagi yang aku baru tahu di Padang ini, yaitu Angkot Sport khas Kota Padang. Angkot Sport di Padang ini sangat nyentrik dan modified full. Hampir semua angkot yang aku temui di kota ini, penuh dengan tempelan stiker dan modifikasinya seperti mobil rally. Mulai dari bumper, hood, top roof, spoiler sampai hal hal kecil yang aku enggak tau namanya, lengkap deh nempel di angkot. Belum lagi suara musik yang berdentam hingar bingar dari mobil mobil ini, wah jadi rame kayak pasar deh. Tapi sayang, hampir semua angkot meskipun sudah di modifikasi, tetap aja tidak bisa berkesan mobil gahar modifikasi khas Pimp My Car-nya MTV, jauh bro… Yang ada malah terkesan norak, karena tanpa perawatan dan kusam.. hehehe. Tapi tetap saja acungan jempol buat para pemilik angkota di Padang ini.

Ok, cukup sampai disini cerita dari Sumatra ini, nanti kalau ada waktu iseng, aku tambahin lagi dah.
Sudah mo mudik soalnya, ini yang dikantor aja sudah seminggu gak konsen kerja, ceritanya tenatang lebaran mulu…

[Di tulis di Mendawai 1/45 Jakarta jam 12:42WIB tgl. 07/09/2010. Bersiap mudik deh besok..]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: