Oleh: Iwan | 16 Maret 2012

Sepenggal cerita dari Liburan ke Pangandaran


Follow kakakIWAN on Twitter

Rabu 07 Maret 2012 jam 12.00 WIB sepulang dari pedalaman Papua, saya sekeluarga, 2 cowok dan empat cewek, yang dua cewe masih anak2 3th, berangkat liburan ke Pantai Pengandaran dari Cirebon via Kuningan, Ciamis dan Banjar. Liburan ke Pantai ini memang sudah kami idam-idamkan.

Meski tanpa pengetahuan jalan yang memadai, karena ini pertama kali liburan ke pantai selatan Jawa Barat, Jeng Vina handal membawa kami melalui daerah perbukitan yang menawan. Jalan berkelok dan naik turun, dilahap dengan santai oleh Jeng Vina. Kami berhenti di Kawali Ciamis untuk istirahat, makan dan sholat jam 14.00, juga karena hujan lebat dan jarak pandang yang semakin berkurang.

Lepas dari Ciamis, masuk ke Banjar, tanpa panduan GPS, hanya Google Maps dari tablet serta nanya kanan kiri, sampailah kami di Banjar (lupa sudah masuk kecamatan/kampung mana), mungkin Padaherang. Karena ada pertigaan, dg agak ragu2 saya ambil jalur ke kanan. Makin lama jalan makin sepi dan aspal makin jelek. Perasaan sudah tidak enak, sementara hari sudah semakin sore. Dalam hati saya bertanya tanya, jangan2 ini jalan ke Angker Batu (dari film Jailangkung yang bersetting pedesaan di Jawa Barat, hehehe). Daripada2….., saya putuskan putar balik dan kembali ke jalur pertama yang ternyata Jl. Raya Pangandaran, yang masih sekitar 60KM lagi menuju pantai Selatan.

Singkat cerita, setelah sampai di pantai pada saat maghrib, kami disambut dengan hujan badai dan angin kencang (katanya efek angin barat) yang kecepatannya mencapai 70KM/jam. Pohon kelapa meliuk-liuk dan kios2 di pantai bergerak2 diterjang angin. Parahnya lagi, ternyata, hotel yang kami pesan via telpon, yaitu Pangandaran Beach Hotel, keadaannya gelap sekali dan bangunannya tua… serem deh! Saya putuskan untuk membatalkan check in di hotel itu dan pindah ke Malabar Hotel yang lebih ramai dan terang benderang, meski ternyata juga sepi dan tetap agak seram.

Ada beberapa cerita aneh di Pangandaran ini, tetapi mungkin terlalu panjang untuk diceritakan. Mulai dari terombang ambingnya kami di ombak besar Laut Selatan saat kami menaiki perahu di esok harinya dan beberapa hal yang agak aneh lainnya. Bagaimana kami tidak tahu ada pantangan menggunakan warna pakaian merah dan hijau di Laut Selatan, malah kami semua malam itu membeli pakaian berwarna merah dan aku pakai naik perahu membelah ganasanya ombak Segoro Kidul? Untunglah kami masih dalam lindungan Tuhan. Suatu saat mungkin akan saya ceritakan🙂

Hari Kamis siang jam 12.00 08 Maret 2012 (keesokan harinya), saya sekeluarga berencana kembali ke Cirebon. Keluar dari Pantai Pangandaran, atas kesepakatan bersama, saya ambil jalur kiri via Cikembulan kalo tidak salah namanya. Ternyata, sekali lagi, kami memilih jalan yang salah. Jalan semakin rusak, kecil, terjal dan berliku-liku khas kontur bukit dan pegunungan. GL HWS yang rendah ini, terpaksa harus berjibsaya untuk menghindari lobang dan jalan yang berbatu2. Hingga akhirnya tersangkut di sebuah lobang pada tanjakan di kampung antah berantah. Saya segera tersadar, untuk kembali lagi ke jalur awal menuju Pangandaran, meskipun akan kehilangan cukup banyak waktu. Tak apalah, asal selamat, pikirku. Berawal dari informasi penduduk yang saling berbeda, mengenai ke mana arah jalan dan kondisi di depan, saya segera banting setir berbalik arah. 2 jam sudah waktu kami hilang di pedesaan yang tidak ada sinyal HP dan tanda2 penunjuk arah yang memadai. Beruntung kami bias kembali ke Jl. Raya Pangandaran kemudian.

Sampai di Banjar dalam keadaan hujan deras bagai air tercurah dari langit, saya melihat penunjuk arah menuju Cirebon, yang kemudian saya putuskan berbelok ke arah ke kanan menuju Cirebon via Rancah dan Rajadesa. Agak bingung dan ragu-ragu, kembali aku putuskan lewat jalan ini. Ternyata, jalur ini tidak kalah seramnya, karena jalur ini adalah jalur yang sepi dan berhutan.

Rumah rumah penduduk makin lama makin jarang. Hanya satu dua kendaraan yang lewat di jalur ini. Kanan kiri lebih banyak rimbunnya hutan, seakan akan banyak mata yang memandangi kami dari balik pepohonan.

Jalan makin lama makin gelap, makin lama makin dingin dan sepi, serta makin berkabut. Sekitar 30KM sudah terlewati, kami benar-benar tersesat. Saat berpapasan dengan truk kayu di sebuah kampung, saya coba tanya ke mereka, jalan menuju Cirebon, bagaimana keadaannya.
Sopir tersebut memberikan saran sebaiknya kembali ke Ciamis saja, karena jalan di depan rusak dan sepi sekali. Apalagi dalam keadaan hujan, di hutan dan jalan malam. Saya baru inget, bahwa ini malam Jumat. Wah, tambah dag dig dug lagi. Tidak tahu apa yang bakal terjadi di depan. Kembali kami tersesat ke-3 kalinya. Ditambah lagi, kabut tiba2 menyergap dan membuat jarak pandang tidak ada lagi. Di ujung tanjakan, rem saya injak dan diam sepersekian detik, menunggu apa yang terjadi sambil berdoa dalam hati. Keadaan cukup tegang, penumpang sudah tercekam. Dari arah depan, cahaya terang datang secara tiba-tiba membelah kabut dan langsung mendekat ke ujung mobil. Ternyata sebuah sepeda motor persis muncul di depan bumper, hampir saja menabrak kami. Refleks, klakson saya bunyikan dan Alhamdulillah tidak terjadi tabrakan, meski sudah nyaris saja terjadi.
Dengan pelan2, saya berusaha maju meski tidak kelihatan apa2, lampu kabut dan lampu besar juga tidak menolong. 5 meter ke depan, kabut tiba-tiba hilang tanpa bekas, dan saya bisa tancap gas dari Rancah menuju jl. Raya Banjar – Ciamis.

Ketegangan masih berlanjut, di tengah gerimis malam dan kabut, saya injek gas untuk menuju Ciamis, mencari penginepan. Lebih baik bermalam di Ciamis, daripada lanjut ke Cirebon yang masih harus melewati jalan terjal berliku, hujan dan kabut pegunungan di Kawali, Cikijing melewati Waduk Darma di Kuningan yang terkenal dengan berbagai ceritanya. Belum lagi, Panjalu di dekat Kawali yang menyimpan misteri Harimau Siluman, dimana mitosnya ada sebuah kampung yang kalau siang hari penduduknya adalah manusia tetapi begitu masuk senja dan malam hari, mereka semua berubah menjadi harimau siluman. Siapa yang masuk kesana, tidak akan pernah kembali lagi. Naudzublillah…

Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB ketika akhirnya saya mendapat penginapan di Tryas Hotel Ciamis, dan beristirahat untuk besok pagi kembali ke Cirebon dan Jakarta. Tanpa backup driver (hanya saya saja yang bisa nyetir), rasanya tubuh ini perlu diistirahatkan barang semalam.

Cerita ini bukan bermaksud untuk jadi memetwit atau membuat cerita seram, meski kenyataannya terjadi begitu. Intinya, pastikan saja mengetahui medan untuk pergi ke daerah yang akan kita tuju, perlengkapan yang memadai (GPS dll) serta persiapan yang cukup, fisik dan non fisik dan informasi yang cukup tentang daerah yang kita tuju.

Satu yang masih jadi pertanyaan saya, apakah benar jalur Cikembulan menuju Banjarsari (Kab. Banjar) dan Rancah – Rajadesa – Cikijing itu benar benar jalan yang bisa dilewati kendaraan seperti GL ini? Ataukah nanti berujung jalan setapak, atau bagaimana? Ataukah saya masuk jalur itu tanpa sadar (meski saya harus sadar juga bahwa saya gak tau jalan dan ga ada panduan, hehehe..). Apalagi, setelah sampai di rumah, banyak mitos dan legenda, bahkan kismis yang saya dengar, merinding bulu kuduk ini.. hihihi. Apa jadinya kalo saya memaksakan diri jalan terus di jalur itu malam2.. Wallahualam. Hanya Tuhan yang tahu..


Responses

  1. wah kalau lewat rancah dan cisaga memang sepi mas.saya orang jakarta yang asli rancah.hutan kiri dan kanan.jalannya memang rusak.bahaya bagi yang belum pernah lewat sana.gelap gulita.kalau jalan siang boleh lah.buat pengalaman.

    Suka

  2. sebenarnya ke cirebon lewat rancah bisa mas.kalau mau ambil jalan pagi atau siang.jalannya jalan aspal, namun ada beberapa tempat yang rusak.dari cisaga terus ke rancah, lalu ke rajadesa.nah dari rancah harus tanya.yang ke rajadesa lewat mana.sebab byk jalan dari rancah yang menuju ke desa2.kalau sdh ketemu jalan rajadesa terus saja.nah disini juga ketemu pertigaan atau perempatan.tanya lagi yang ke arah kawali kemana?kalau sdh ketemu jalan ciamis-cirebon sdh aman.ambil ke kanan trs deh ke cirebon.

    Suka

  3. Wah, terima kasih. Kapan kapan mau ke Pangandaran lagi. Sekarang sudah ada GPS jadi lebih enak.

    Terima kasih sudah berkunjung ke blog sederhana ini.
    Salam,
    iwan

    Suka

  4. Pangandaran memang asyik buat dijadikan wisata keluarga..

    Suka

  5. antara mistis dan nyata memang beda tipis klo kita tdk tahu medan,, rip indra my best friend hilang di panjalu sampai saat ini hanya karena nekat….

    Suka

    • Oh ya, bagaimana ceritanya?
      Boleh dishare?

      Salam,
      iwan

      Suka


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: