Oleh: Iwan | 8 Januari 2016

Akhir Tahunku di Batu Malang bersama Airbnb


Kota-Batu-Malang-di-malam-hari

 

Saat tahun 2015 sudah hampir berakhir, aku sangat menunggu nunggu kesempatan akhir tahun itu untuk dapat berlibur, mengembara dan melupakan sedikit kepenatan dari hiruk pikuknya ibukota dan rumitnya pekerjaan. Jauh jauh hari sudah aku merencanakan untuk bisa menghabiskan akhir tahun di kota dingin nan tinggi di Batu Malang Jawa Timur.

Kota Batu terletak di Kotamadya Batu Malang Jawa Timur, sekitar 100km dari Kota Surabaya, ibukota Jawa Timur dan sekitar 15km ke arah Barat Daya kota Malang. Kota ini dengan ketinggian sekitar 700 – 1700 dpl, tentu mempunyai hawa sejuk bahkan cenderung dingin. Sangat nyaman dengan rata rata suhu 12-19 derajat Celcius dan dan dijuluki sebagai De Kleine Zwitserland atau Swiss Kecil di Pulau Jawa (Wikipedia)

Setelah mempersiapkan diri, aku mulai mencari cari daftar penginapan yang cocok dengan isi dompet dan tersedia di malam tahun baru. Kali ini aku akan menggunakan Airbnb sebagai provider untuk mendapatkan penginapan murah meriah yang aku inginkan. Dan pilihanku jatuh pada Ken Dedes Villa di Bumiaji Batu Malang, sebuah kawasan pedesaan di Gunung Panderman yang masih asri dan sepi, jauh dari keramaian. Lokasi yang tepat untuk menghilang sejenak dari pandangan.

Dengan harga yang bersahabat, hanya USD32/malam, aku telah mendapatkan kamar yang bersih dan rapi meskipun agak kecil. Dan akupun tak berpikir lama untuk mengeksekusi pembayaran dengan paypal-ku. Aman, akhir tahun aku sudah mendapatkan penginapan yang aku inginkan. Dan ceritapun segera mengalir.

Sepulang dari menikmati keindahan Pulau Sempu dan Pantai Sendang Biru di Malang Selatan (mungkin akan aku ceritakan dalam kesempatan yang lain), aku meneruskan perjalanan ke Batu untuk check in di Ken Dedes Villa di tanggal 31 Desember 2015. Dalam perjalanan dari Malang ke Batu, sebelum jam 12.00 WIB akupun menghubungi ibu Mudjiati Parijotho sang pemilik Villa Ken Dedes untuk mengkonfirmasikan kedatanganku ke villa tersebut. Dari sini, drama akhir tahun yang seru dan membuat aku mules berkeringat ini dimulai. Ibu Mudjiati menerima teleponku dan menanyakan keperluanku. Setelah aku jawab bahwa aku akan menginap di Villa Ken Dedes dan sudah melakukan reservasi sekaligus melakukan pembayaran via Airbnb, ibu Mudjiati mengatakan bahwa dia tidak mendapatkan informasi mengenai reservasiku dari Airbnb dan bahkan menyampaikan bahwa dia tidak ada kerjasama dengan Airbnb. Teleponpun ditutup. Tut.. tut.. tut! Mampus loo….

Aku gusar… Maka tidak ada pilihan selain aku harus langsung datang ke Villa dan ketemu langsung dengan pemilik villa untuk mengklarifikasi hal ini. Setelah berputar putar di kota Batu mendaki menaiki perbukitan di Panderman dengan jalan yang kecil, menanjak dan berliku liku, sampailah aku di villa yang sepi di atas bukit Panderman. Setelah bertemu dan menyampaikan maksud, hasilnya tetap saja. Aku ditolak untuk check in di Villa, meskipun sudah aku tunjukkan bukti bukti pembayaran dan reservasi dari Airbnb. BUNTU!! Negosisasi tidak menghasilkan solusi. Dia ngotot mengatakan tidak menerima reservasi dari Airbnb dan tidak ada hubungan bisnis apapun. Bahkan kamar kamar serta villa yang disitu, sudah penuh sampai dengan minggu berikutnya dan harganya berlipat lipat mahalnya. Aku berkesimpulan, ini trik ibu Mudjiati karena dia telah mendapatkan pemesanan offline atau dari provider lain yang harganya lebih mahal. Janc***k!! Akhirnya aku mengalah, aku lebih baik tidak meneruskan berdebat dengan ibu itu, toh kamar sudah penuh dan aku juga tidak bisa memaksa. Satu satunya jalan, aku harus cari penginapan sendiri dan nanti aku akan meminta tanggungjawab Airbnb. Atau mungkin juga harus tidur di Musholla.. hahay!

Benar saja, tidak mudah mencari penginapan di Batu pada saat malam tahun baru seperti ini. Kota sudah padat oleh pendatang dan kamar kamar dari yang kelas dewa sampai kelas kambing sudah habis dipesan. Hari semakin malam dan mendekati jam 19.00, ditengah hawa dingin dan rintik hujan, aku belum juga dapat penginapan. Berputar putar kota, dengan kemacetan yang parah pun juga tak tahu arah.. Ditemani GPS yang ngaco dan Google Maps yang kadang melongo. The Perfect Combo!

Akhirnya, setelah berputar dan berputar beberapa kali mengelilingi Kota Batu, jam 19.00 lebih, aku menemukan hotel kecil bernama Mutiara Hotel di Jalan Raya Panglima Sudirman No.49, di tengah kota Batu. Hotel yang biasanya sepi, mendadak penuh dan luber di malam ini. Hanya tersisa satu kamar yang pengap, tidak ada air panas, tidak AC bahkan fan saja tidak. Dan harganyapun lumayan mahal, Rp. 525,000.00. Biasanya harga kamar ini hanya seratus ribu di hari biasa. Tapi sudahlah… Kuputuskan tidak jadi saja daripada tersiksa.

 

Sambil terus berusaha mencari hotel lainnya, aku mulai menghubungi Airbnb via Twitter mengabarkan bahwa kedatanganku ditolak oleh host partner Airbnb. Sungguh keren, cuitanku di Twitter segera disambar oleh @AirbnbHelp yang segera menginformasikan bahwa Airbnb segera menghubungiku untuk membantu memberikan solusi.

Jam 19.30 waktu Batu atau jam 07.30 waktu California, Kate dari Airbnb menghubungiku dari San Fransisco Amerika (kantor Airbnb), meminta maaf dan memberikan kabar yang cukup melegakan bahwa Airbnb akan bertanggungjawab dan mencarikan hotel sebagai kompensasi last minute cancellation oleh partnernya yaitu Ken Dedes Homestay di Bumiaji Batu ini. Dengan sabar Kate meyakinkanku bahwa dia dan team Airbnb sedang membantu mencarikan hotel yang tersedia di Batu. Kate berusaha secara online untuk mem-booking-kan hotel, tetapi apa daya, dia tidak mampu memenuhi janjinya, karena ini adalah malam tahun baru. Begitu susah mencari hotel di malam penghujung tahun secara mendadak, apalagi secara online dari negeri yang jauhnya ribuan kilometer dari kota Batu. Sebagai kompensasi awal, Kate memberiku penenang berupa makan malam senilai USD50 yang bisa di-reimburse ke Airbnb. Awalnya Kate menawarkan hotel di kota Malang yang lebih banyak pilihan, tetapi karena ada penutupan jalan oleh aparat kepolisian, tentu tidak mungkin kembali ke kota Malang dalam situasi seperti ini. Dan karena Kate tidak mampu mencarikanku hotel, dia menawarkan padaku untuk mencari sendiri hotel dan biayanya dibebankan kepada Airbnb, at any cost. Wow…!! setengah tidak percaya akan hal ini, tapi aku berusaha berpikir positif. (kebayang kalau dapat kamar hotel Royal Suite yang harganya wewww…..). Tetapi, ini adalah reputasi dan nama baik yang dipertaruhkan Airbnb kepada customer-nya.

Setelah menikmati makan malam, aku kembali berkeliling mencari hotel (ground finding) dan setelah hampir jam 21.00 WIB, aku akhirnya mendapatan hotel yang cukup bagus meski kuno di Royal Orchid Garden di Jalan Indragiri 4, masih dekat dengan pusat kota. Kamar yang tersisa hanya Junior Executive dengan harga Rp3,999,999.00. Setelah beberapa kali nego (namanya juga lobbyist), akhirnya aku mendapat diskon 25% dari published rate. Asyiikk! Aku segera menghubungi Kate via Twitter dan Email. Dan Alhamdulillah, mereka menyampaikan berapapun harga kamar, akan diganti oleh Airbnb. Thanks God! It’s a gift in New Years Eve

Setelah memarkir mobil dan check in di hotel, air hangat dan kasur empuk segera menanti. Makanan berlimpah meski tidak terlalu enak (tau sendiri lah makanan hotel), menyambutku di malam pergantian tahun. Cabaret dan Door Prize menemani perayaan ini. Sejenak lupakan keruwetan yang ditimbulkan oleh Ken Dedes Villa, mari kita berjalan jalan ke alun alun kota Batu dan menikmati pesta Kembang Api. Jagung bakar, bakwan Malang dan tentu saja, mampir di Pos Ketan Legenda 1967. Nakam kes ker!

Alun-alun-Kota-Wisata-Batu

 

MyPaypal

Oya, malam itu juga, Airbnb me-refund pembayaranku senilai USD32 via Paypal. Beberapa hari kemudian tepatnya tanggal 3 Januari 2016, aku mengirimkan bukti pembayaran hotel dan makan malam di Batu Malang dan kerennya, tanggal 4 Januari 2016, Airbnb UK telah mengirimkan reimbursement senilai USD271 ke account Paypal-ku. Benar benar satu komitmen yang luar biasa.

Ya, inilah pengalamanku di malam Tahun Baru kemarin, diantara dingin dan hujannya kota Batu. Ini juga pertamakali aku menggunakan layanan Airbnb, sayang kok pas dapat host yang nggatheli, meskipun sudah dibereskan oleh Airbnb. Berkendara ke Kota Batu dari rumahku yang hampir 800 km jauhnya di Jakarta, tentu membuat senewen kalau akhirnya tidak sesuai harapan. Terimakasih Airbnb, pengalaman ini tak terlupakan. Pengen tau juga, apakah perusahaan lokal juga bisa berkomitmen seperti layanan Airbnb ini. Bukan nilai uangnya, tapi komitmen untuk bertanggungjawab penuh memberikan layanan terbaik kepada setiap customernya. Salut!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: