Oleh: Iwan | 11 Januari 2016

Tour D’Java 2015 (Bagian 1)


pjawaKali ini, aku hanya ingin berbagi keasyikan saat menjelajahi sebagian besar pulau Jawa pada saat akhir tahun 2015 kemarin. Perjalanan ini sudah aku rencanakan jauh jauh hari dan akhir tahun ini akan kuhabiskan sendirian menyusuri jalan, mencari kesejatian #lebay

Perjalanan dimulai pada malam tanggal 20 Desember 2015. Rute darat (roadtrip) yang kutempuh standar saja, Bintaro, tol JORR (Jakarta Outer Ring Road), tol Japek (Jakarta – Cikampek) dan lanjut tol Cipali (Cikampek – Palimanan). 22.00 WIB berangkat, tidak ada yang istimewa, karena itu rute biasa dan masih belum macet karena liburan Natal dan Tahun Baru belumlah tiba. Sesekali gerimis menemani perjalanan nan sepi dan lengang malam itu. Untuk mengusir kantuk dan sepi, suara musik dalam mobil aku keraskan dengan suara Chad Gray dari Hellyeah. Demons in the Dirt menjadi lagu yang kuputar berkali kali.

Selepas tol Cipali, hari sudah pagi menjelang Subuh. Berhenti sejenak untuk sholat Subuh di pinggir jalan Tol yang masih berkabut, sesudahnya segera kukebut GL HWSku. Beristirahat sejenak dan sarapan Sate Kambing di Pejagan Brebes, dimana di kanan kiri jalan hampir semuanya jualan Sate Kambing. Mbeekkkk… Seporsi sate sudah berpindah tempat ke dalam perut. Nama warungnya Sate Kambing MURNI di Jalan Raya Pejagan selepas Tol. Sate Kambing di Pejagan Brebes ini rata rata lumayan enak, tapi tidak sangat enak. Kalau mau enak ya ke sate kambing Bang Kumis di Bogor (ah… ga bisa Move On nih).

Perjalanan di Pantura mulai sedikit tegang karena capek belum tidur semalaman. Selepas Brebes, aku berhenti di sebuah SPBU di Tegal untuk sekedar merem dan meluruskan persendian serta otot otot yang tegang. SPBU. Lupa deh nama SPBU-nya. Yang jelas, di SPBU tersebut terpampang SPBU dengan Rekor MURI sebagai SPBU terbaik yang menyediakan toilet bersih. Bisa mandi, BAB dan ada kolam renang dan foodcourt-nya.

RMAniSingkat cerita, perjalanan Pantura dilewati sampai siang hari, melewati Pekalongan, Kendal, Alas Roban Batang dan Kendal serta Semarang. Masuk Semarang mengikuti jalur tol Semarang – Ungaran – Bawen yang indah dan menanjak serta berkelok kelok. Sopir sudah sedemikian capek dan ngantuk. Keluar Pintu Tol Bawen, belok kanan menuju Yogyakarta via Magelang. Matahari sudah mulai condong ke Barat. Melewati Bawen, Ambarawa, Temanggung dan Magelang, aku mampir kembali ke sebuah warung yang layak untuk didatangi kembali, RM. ANI di Jl. Raya Secang Pringsurat Magelang. Rumah Makan ini sepertinya sudah cukup lama, tapi menu menu yang disajikan khas rumahan dan aneka masakan terutama Jawa. Tidak seperti masakan Jawa (Magelang) yang manis, warung ini lumayan cocok dan memanjakan lidah penyuka masakan Jawa (Nusantara). Menu menu yang disajikan antara lain Sop Buntut,  Sayur Lodeh, Ayam Panggang, Bakar, Lodeh dan aneka masakan lainnya. Ayamnya pun ayam kampung, tapi tidak tahu apakah spainya sapi kampung atau sapi kota.

 Memasuki kota Yogyakarta, hari sudah menjelang petang. Sekitar pukul 18.00 aku langsung check in di sebuah hotel kecil yang cukup bagus di Kaliurang. Namanya Bale Bale. Cukup bagus dan bersih, meskipun harganya agak mahal menurutku, Rp600,000.00/malam. Fasilitasnya cukup baik, ruangan yang minimalis modern, air hangat, saluran TV Cable, internet broadband dan resto yang buka sampai jam 23.00WIB. Bale Bale beralamat Jl. Raya Kaliurang KM19 No.78 Yogyakarta. Dengan jumlah kamar yang hanya 18 kamar, terdiri dari 2 (dua) lantai.

Acara pagi harinya setelah check out dari Bale Bale adalah ke Kaliurang. Ya, salah satu tujuan piknik di Yogyakarta adalah ketinggian Kaliurang yang terletak di lereng Gunung Merapi, tempat tinggal Pawang Gunung Merapi yang sangat legendaris, Mbah Maridjan rosa rosa… #jrott. Meskipun ini bukan pertamakalinya aku ke Kaliurang, tetapi maen sampai ke Pasar di pegunungan ini, ya baru pertama kali ini. Dulu sih pernah kemping di Kaliurang, di tempat bumi perkemahan. Di Kaliurang tetap saja, yang dicari indomie😀, meskipun banyak yang jualan Sate Kelinci dan Sate Kambing. Dari Bale Bale di KM19 menuju Pasar Kaliurang tidak begitu jauh. Setelah sampai di pintu masuk Taman Wisata Kaliurang dengan hanya membayar Rp.6,000.00 kita sudah bisa menikmati aneka wisata dan taman bermain. Yang aku tuju adalah Gardu Pandang Merapi dan Pasarnya.

Wisma GajahSetelah dari pegunungan, perjalanan berlanjut ke tengah kota nan meriah, Yogyakarta. Kali ini menggunakan provider Agoda untuk mencari penginapan. Karena ingin mencoba mencari hotel dibawah budget, pilihanku jatuh ke Wisma Gajah di Jl. Prawirotaman 04 Yogyakarta. Hotel murah ini sepertinya hotel lama, yang mungkin sudah lama tidak ada renovasi meskipun bangunannya masih cukup baik. Hanya kesan agak suram dan kuno saja. Harganya cukup bersahabat, hanya Rp.270,000.oo di hari biasa (eh, ini menjelang Libur Natal ding) untuk kamar standar, dimana akhirnya aku mendapatkan kamar di lantai 2 yang harus naik tangga dan sepi karena tidak banyak yang menginap di lantai atas. Hotel ini sejatinya merupakan rumah pribadi yang dibangun pada tahun 1957 dan diubah oleh pemiliknya menjadi hotel. Meskipun agak kuno, Wisma Gajah mempunyai kolam renang yang cukup luas dan bersih. Not bad lah untuk sekedar nyemplung dan mendinginkan badan.

SparkMalam hari di Yogya, disebelah kiri Wisma Gajah, ada tempat minum semacam bar pinggir jalan yang meyajikan minuman dewasa, antara lain bir dan sejenisnya. Namanya Spark Bar. Malam makin larut dan gelas gelas berisi minuman makin banyak saja tersaji di meja bar. Beberapa minuman yang ada antara lain Bir Bintang, Heineken, Calsberg, San Miguel, Bali Hai dan Anker. Ada juga softdrink, dari Coca Cola sampai Smirnof dan Black Jack. Juga ada bermacam macam tambul (Suroboyoan, yang artinya kudapan untuk menemani minum), mulai dari makanan ringan sampai ala Eropa Timur. Tapi, kayaknya ga ada Erwe atau B2-nya disini. Kebanyakan bule bule yang nongkrong disini juga dari Eropa Timur (nebak aja sih.. karena aku ga pernah nanya atau lihat paspornya).

 Besoknya, setelah menikmati kota Yogyakarta, perjalanan aku lanjutkan ke Pantai Selatan, tepatnya di pantai Parangtritis, pantai yang sudah biasa dikunjungi. Berangkat sore hari setelah siangnya ketemu dengan teman lamaku waktu SMP dulu, Denny Patria di Magelang. 1987 – 1990 adalah waktu waktu bersama di SMP. Setelah 25 tahun baru kali ini bisa bertemu dan berkumpul di tempat yang jauh dari rumah. Ya, di Magelang. Tepatnya bertemu di Grand Artos Mall yang terletak di jantung kota Magelang. Dari Yogya aku meluncur ke Magelang, kurang lebih 2 jam karena liburan, jalan jalan di Yogya padat banget cyn. Di Mall Artos akhirnya aku bertemu Denny beserta istrinya, seneng banget cuk! Ah, nostalgia dengan Denny tidak usah diceritakan panjang lebar, lebay.. nanti menghabiskan bandwith saja. Thanks to Denny, you’re my fuckin’ good friend.

Berangkat dari Magelang, aku segera menggeber mobilku pada kecepatan penuh, penuh muatan maksudnya. Maklum, aku bukan pembalap dan gak pernah nyetir kayak pembalap yang maunya cepat cepat. Melewati Ring Road Utara, melipir ke Ring Road Barat, tetap macet dan tidak secepat yang aku inginkan. Berpatokan pada GPS Garmin yang belum ter-update lagi sejak 2012, aku nyasar sampai di kampung kampung karena menghindari Ring Road Selatan yang lumayan macet. Sampai di Parangtritis pun sudah cukup malam, 20.30. Segera setelah sampai di Parangtritis, yang pertama aku lakukan adalah mencari penginapan. Ada papan besar bertuliskan Budi Inn, kucoba masuk dann menanyakan. Tetapi, kamarnya kurang bagus lah menurutku. Tidak terlalu bersih dan agak kusam. Pindah ke sebelah, akhirnya aku putuskan menginap di Widodo Inn, sebelahan dengan Budi. Sebenarnya kamarnya tidak terlalu ok, tapi ya sutralah, sudah cukup malam. Dengan harga Rp.300,000.00/malam, aku mendapatkan kamar ber-AC dan berfasilitas Air Panas dan TV Parabola yang siarannya gak jelas.. hahaha. Okelah, mungkin suatu saat Pemda Bantul suruh bikin hotel atau ada investor yang bikin hotel agak bagus dikit. Masak RP.300,000.00 cuman dapat penginapan yang mbeeekk. Tapi, tetap saja, Alhamdulillah.

img_5349

Setelah mandi dan sholat Isya, tujuan utama adalah bermain ke Pantai Parangtritis. Sayang, di malam hari sehabis hujan seperti ini, tidak banyak orang di pantai. Sepi, gelap dan debur ombak yang menggelegar. Jadi ngeri sendiri, melihat ombak di kegelapan malam dengan langit gelap dan petir yang menyambar… Hiii, gak lama lama deh di pantai, takut dari pantai keluar sesuatu, kaboooorrr!! Karena lapar, aku berjalan kaki ke Jalan Raya Parangtritis mencari pengganjal perut. Ketemu deh dengan Angkringan, sayang Nasi Kucing-nya sudah habis digondol kucing. Walhasil, hanya tahu isi dan segelas teh panas wasgitel yang bisa diasup. Belum lagi, pas beli indomie (indomie lagi), listrik pun mati. Lengkap deh penderitaanku. Pulanglah ke penginapan dengan perut kenyang berisi indomie dari kegelapan *halah.

Kamar Wisata Indah HotelHari ke-4 dari perjalananku, berlanjut ke kota Solo. Dari Parangtritis jam 12.00 siang, meluncurlah aku ke Solo. Cuman transit saja sih menuju ke rumah ibuku di Kertosono. Karena pasti sampai di Solo sudah malam, maka aku putuskan menginap di Solo di malam Natal tanggal 24 Desember 2015. Kembali Agoda.com jadi provider. Asyik juga dalam perjalanan berburu penginepan online. Agoda, Airbnb, Hotel Quickly dan Traveloka, Rajakamar dan lain lain dicobain semua. Akhirnya dapatlah sebuah hotel di Jl. Slamet Riyadi, yaitu Hotel Wisata Indah. Harganya juga cukup bersahabat, hanya sekitar Rp.200,000.00-an/malam. Tempatnya cukup gampang dicari, asal jangan menggunakan panduan Google Maps, bisa masuk ke kuburan loh. Serius! Cari saja hotel Wisata Indah di Jl. Slamet Riyadi Solo, pasti akan diarahkan ke Kuburan Maja di Slamet Riyadi, tapi di luar kota Solo. Hadeh…

img_5362Solo, karena hanya transit, maka lebih banyak istirahat saja untuk mengumpulkan tenaga, karena besok pagi ada track yang lebih menantang. Ke Jawa Timur melalui puncak Tawangmangu, dengan ketinggian sampai dengan 2000 mdpl, tentu mengasyikkan (kalau tidak macet..). Malam hari keluar sebentar jalan jalan di Jalan Slamet Riyadi untuk menikmati Sego Liwet. Apapun nama sego liwet di Solo, rasanya bagiku sama saja. Plain dan untungnya ada Ayam Kampung yang menyelamatkannya juga masih ada cabe buat di-ceplus. Sebagai maniak pedas, hidup terasa hambar tanpa ada tamparan cabe di lidah. Sego liwet ini adalah makanan khas Solo, dengan nasi lembek yang di-liwet (dimasak langsung dengan air dan santan-mungkin loh ya), sehingga teksturnya lembek. Ditambah ayam opor (ayam kampung) dan santan kental serta cabe rawit putih sebagai penyemangat. Ya sudah, terima saja. Enak kok…

Hari Natal 25 Desember 2015, kota Solo adem ayem saja tidak terlalu riuh dan padat seperti di Yogya. Seperti biasa, aku selalu bangun siang dan lupa sarapan. Tapi untunglah, di hotel Wisata Indah, sarapannya diantarkan ke kamar. Sehingga nasi goreng yang disajikan jam 06.30 pagi, sudah mengering disantap jam 11.00 siang, hahaha. Ajoorr! Setelah selesai mandi dan menyisir rambut, segera kukemasi barang barang dari dalam kamar untuk segera kabur ke Jawa Timur. Next destination, rumah Emak di Kertosono via Tawangwangu dan Telaga Sarangan. Wih, sudah terbayang akan melawati Cemorosewu di kaki Gunung Lawu, dimana saat SMA aku pernah mendaki Gungung itu dan hampir mati diatas sana.. Untung Tuhan belum berkenan memanggilku pulang. Ah, mengingatkan aku akan cerita 25 tahun yang lalu.

IndahMenuKeluar dari Wisata Indah jam 11.30, mobil langsung tancap gas menuju Jalan Raya Palur, Karanganyar Solo. Setelah lepas dari Palur dan Kota Karanganyar, jalan sudah mulai menanjak. Inilah pertama kalinya aku pulang ke Jawa Timur melalui rute menantang ini. Tawangmangu adalah tempat tetirah di kaki Gunung Lawu, tepat di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jawa Tengah di Karanganyar dan Jawa Timur di Kabupaten Magetan. Sampai di kaki Gunung Lawu, mampir sebentar mengisi perut di sebuah Rumah Makan bernama Indah yang berada di Jl. Raya Lawu, Karangpandan Karanganyar jawa Tengah. Garang asemnya lumayan asyik, terutama cabenya, hahaha (cabe lagi..). Harganya juga tidak terlalu mahal, dan yang datang rata-rata etnis Tionghoa. Biasanya, kalau banyak orang Tionghoa-nya, biasanya sajian makanannya itu enak, biasanya loh ya…. Pas makan kali ini, ada bule datang sendirian dan memesan garang asem dan es teh jumbo 2 gelas. Kayaknya orang ini fasih berbahasa Indonesia dan jawa. Aku menebak, mungkin bapak ini salah satu misionaris di daerah ini. Selesai makan, karena beliau satu meja denganku, berpamitan dengan sopan. Permisiiii….

Sehabimg_5376is isi perut, wuzz wuzz segera kupacu mobilku. Tawangmangu pun segera
aku lewati, dengan banyak pemandangan khas pegunungan dengan jalan menanjak dan kabutnya. Kendaraan lumayan ban
yak, sehingga aku harus merayap menuju ketinggian. Dengan mobil manual, kaki kiriku serasa membesar dengan rasa yang lumayan pegal. Tawangmangu lewat, kemudian kaki gunung Lawu dimana biasanya para pendaki gunung akan melalui rute awalnya disini. Ya, Cemorosewu atau Seribu Cemara. Cemorosewu merupakan awal pendakian dari jalur Jawa Timur atau Jalur Selatan, sementara Cemoro Kandang, Tawangmangu adalah jalur pendakian dari Jawa Tengah, sedangkan Jalur Utara melaui Kabupaten Ngawi. Kalau Tawangmangu masuk Karanganyar Jawa Tengah, maka Cemorosewu sudah masuk di wilayah Plaosan Kabupaten Magetan Jawa Timur. ya, sampailah aku di Jawa Timur. Dengan jalan menurun, sebentar lagi aku akan bertemu dengan Telaga Sarangan. Mampir sebentar deh istirahat di Telaga Sarangan.

 


Telaga Sarangan, juga dikenal sebagai Telaga Pasir, adalah telaga alami yang berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut dan terletak di lereng Gunung Lawu, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Telaga ini berjarak sekitar 16 kilometer arah barat kota Magetan. Telaga ini luasnya sekitar 30 hektare dan berkedalaman 28 meter, dengan suhu udara antara 15-20 derajat Celsius. Di sekeliling telaga terdapat dua hotel berbintang, 43 hotel kelas melati, dan 18 pondok wisata. Di samping puluhan kios cendera mata, pengunjung dapat pula menikmati indahnya Sarangan dengan berkuda mengitari telaga, atau mengendarai kapal cepat. Fasilitas obyek wisata lainnya pun tersedia, misalnya rumah makan, tempat bermain, pasar wisata, tempat parkir, sarana telepon umum, tempat ibadah, dan taman (wikipedia).

Baksonya enak anget dan saos merahnya.. hehehe. Lumayan lah buat obat kangen makanan Jawa Timur. Ditemani dengan wedang ronde, istirahat di Sarangan lumayan menyegarkan. Perjalanan di Jawa Timur masih banyak, akan aku sambung di tulisan berikutnya. Daag!! (nawi)

Note : photo di-mix dari iphone dan googling di internet.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: