Oleh: Iwan | 12 Januari 2016

Tour D’Java (Bagian 2 | di Blitar)


img_5434

Setelah menghabiskan sebagian besar waktuku dengan menjelajahi Yogyakarta dan Jawa Tengah, yang akan aku ceritakan kali ini adalah perjalananku di Jawa Timur. Terutama pantai pantai yang indah di wilayah Selatan, atau Pantai Selatan Segoro Kidul. Pantai Selatan di Jawa memang ganas dan eksotis, jarang disentuh bak perawan di sarang penjahit…#crott

Pantai di sepanjang wilayah selatan Jawa Timur ini, membentang mulai dari bagian Barat yaitu Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember dan Banyuwangi. Hampir sebagian besar pantai selatan tersebut berombak besar dan ganas namun eksotik, cocok untuk mereka yang menyukai olahraga surfing. Ombak yang menerjang dan menyapu pantai, sangat menantang. Dalam perjalanan akhir tahunku ini, pantai pantai yang aku datangi adalah pantai di Blitar dan Malang, semuanya ada di selatan. Iya, Pantai Laut Selatan alias Segoro Kidul.

 

Kopdar Ex SMA 1990

Setelah stand by dan sampai rumah di tanggal 25 Desember 2016 malam, kegiatan akhir pekanku di rumah emak hanyalah istirahat, pijat ke langgananku yaitu tukang pijat tradisional serta kopdar dan kopdar. Ah, kopdar ini memang enak dan perlu. Silaturahmi lah.. Silaturahmi disebutkan bisa memperpanjang umur, menambah kegantengan dan barangkali banyak rejeki. Rejeki bukan hanya duit ya, tapi teman baik, waktu yang berguna, keluarga yang rukun dan bahagia dan banyak lagi hal hal yang baik yang sering dibahas oleh para ulama dan orang pintar. Semoga doa doa baik ini menjadi nyata. Amiiinnn!

Bakso Srengat Indah. Enak tenan..!

Hari Minggu 27 Desember, jam 10.00 pagi setelah disuruh mandi sama emakku, aku sekeluarga bersama emak, kedua kakakku dan 3 ponakan, berniat mengunjungi makam Proklamator RI almarhum Ir. Soekarno di Kota Blitar Jawa Timur. Kota Blitar terletak di tenggara kotaku Kertosono, sekitar 2 jam perjalanan atau ± 75km. Rutenya adalah Kertosono ke arah selatan menuju Kota Kediri, Srengat dan Kota Blitar. Kota Srengat yang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Blitar) adalah salah satu tujuan, karena ada Bakso enak yang bernama Bakso Srengat Indah™. Bakso ini cukup nayamul ketika sebelumnya aku pernah mencobanya di Kediri. Oya, Srengat adalah kota sahabat baik, kakak dan dosenku, Om Wewey. Bakso ini sudah direkomendasikan beliau. Dan memang gak salah. Tengah hari, aku sudah mendarat dengan bahagia di TKP, Bakso Srengat Indah di depan Pegadaian Srengat, Blitar. Warung bakso ini menggunakan tenda, sudah buka dari pagi kayaknya. Udara yang panas di Blitar membuat keringat semakin deras mengucur, manakala sendok demi sendok penthol (bakso), menggelinding ke dalam perut. Belum lagi serangan sambel yang panas membara. Haujek poll! Gak usah ngiler ya, Baksonya emang enakkkk… Pilihannya ada bakso kikil, bakso biasa. Dengan tambahan tahu goreng yang empuk dan gurih. Ada gorengan (bakwan), tapi tidak ada bakso kasar atau bakso urat. Aku lupa, berapa harga bakso per porsi. Yang jelas cukup murah dan tidak akan membuatmu miskin. Don’t rich people difficult-lah.

 

Setelah rasa penasaran akan bakso enak terobati di Srengat, kami langsung berangkat menuju kota Blitar, yang tinggal 1/2 jam saja dari Srengat. Kalau mau cepat, mungkin 15 menit saja. Langsung ke jantung tujuan, Makam Proklamator, Ir. Soekarno (Bung Karno) yang terlatak di Jalan Kalasan. Segeralah kami sampai di tujuan, mesin pun kumatikan. Jariku kau genggam, seakan enggan kau lepaskan #nyanyi

img_5427

Patung Bung Karno

Makam Bung Karno pas tengah hari begini, begitu panas dan terik. Sepertinya Blitar masih kurang hujan nih di penghujung tahun ini. Oya, ternyata dari patung yang ada dan tulisan yang ada di tembok menuju makam, Bung Karno punya nama kecil Koesno. Bungkusno dalam bahasa Jawa artinya bungkuskan… Tp yang jelas, Koesno ini bukan itu artinya. Saat kendaraan kami berjalan pelan menuju makam di Jalan Kalasan No.1 Kota Blitar, kami diberhentikan oleh anak anak muda yang meminta kami untuk meminggirkan mobil dan memarkirnya di pinggir jalan. Aman sih, tapi ya gitu, masih jauh dari makam. Enggak apa apa deh, sekalian olahraga jalan kaki. Belum lama lepas dari tukang parkir, kami dihadang segerombolan ibu ibu yang menawarkan bunga tabur. Tidak terlalu mahal, hanya RP.5000.00/bungkus plastik. Ya udah, ambil 2 buat nyekar dan berdoa di makam Bapak Bangsa.

 

img_5428

Siang itu ramai sekali, meski tidak terlalu berdesak desakan. Kamipun berkesempatan untuk bisa berdoa langsung di samping makam Bung Karno. Berdoa di makam tidak lebih dari 15 menit, tapi yang jadi masalah adalah jalan keluarnya. Aduhh dek, ternyata jalan keluar dari makam ini begitu komersil bingitss. Masa, jalan keluar yang kecil itu di-setting melewati pasar pusat oleh oleh dan cinderamata. Dengan atap seng dan minim ventilasi, duh, seperti melewati kamp konsentrasi yang bisa 1 kilometer panjangnya. Untuk anak muda seperti aku saja sudah kepayahan, apalagi untuk orang setua ibuku. Kebangeten atau kebingitan yah… Plis deh! Sepanjang jalan di dalam pasar itu hampir didominasi oleh penjual oleh oleh yang sarat dengan citra Bung Karno, Marhaenisme dan juga Moncong Putih. Baik itu T-Shirt, Gantungan Kunci, Lukisan, kain dll, semuanya cenderung bermotifkan Proklamator dan sejenisnya.

img_5433Lepas dari jerat pasar oleh oleh, aku pun segera bersiap menuju selatan. Ya, ke pantai…. Selatan?? Oya, Pantai memang di Blitar Selatan. Kalau menyebut Blitar Selatan, jadi ingat dengan film Penumpasan PKI di BLitar Selatan atau Operasi Trisula. Ya, itu salah satu film wajib yang harus ditonton waktu SD atau SMP ya. Lupa. Di Blitar ini, ada beberapa pantai, tapi sepertinya arahnya sama, jalannya juga sama. Mungkin nanti pecah begitu mendekati sungai. Blitar Selatan.

Dari pusat kota Blitar menuju ke arah Pantai Selatan jaraknya kurang lebih 40km dan bisa ditempuh sekitar 1-1,5 jam dengan kontur jalan yang naik turun, meliuk liuk melewati perbukitan. Menyenangkan sekaligus mendebarkan. Jalan yang lumayan kecil dengan banyak tanjakan dan turunan, sebelah jurang… wawwww!! Sangat menantang dan meningkatkan kadar adrenalin dalam otak.

 

Ketika sudah mendekati pantai Tambakrejo, dari kejauhan dan ketinggian bukit, laut biru sudah nampak. Sangat indah. Biru membentang berbatas cakrawala. Bau air laut sudah menyeruak di udara ketika kaca mobil aku turunkan dan AC aku matikan. Pantai… oh benar benar sakaw pantai nih. Perjuangan untuk mencapai pantai ini terbayar sudah. Perjalanan yang cukup melelahkan karena harus penuh konsentrasi di jalan yang sulit, tidak berarti lagi begitu sampai di Pantai Tambakrejo. Dengan tiket masuk cuman 3000 rupiah per orang dan parkir mobil 5000 rupiah, kita bisa maen sepuasnya di pantai ini. Sebenarnya banyak pantai di Blitar ini, tapi karena terbatasnya waktu (alasan), pilihanku jatuh ke Pantai Tambakrejo di Wonotirto Wlingi Blitar ini. Dan, sekarang, waktunya narsis…!

img_5440

 

Pantai Tambakrejo ini ombaknya lumayan gede. Makanya, dilarang mandi di pantai karena tipikal pantai selatan, ombaknya ganas dan besar. Sudah banyak korban tenggelam dan terseret arus. Jangan coba coba mandi di pantai ini, kalau tidak mau terbawa ombak. Kecuali Anda seorang professional. Akupun hanya bisa bermain ombak di pinggir pantai, menunggu ombak datang dan melepasnya kembali ke lautan.

img_5444

Setelah puas bermain ombak yang datang bergulung-gulung, maka acara selanjutnya gampang ditebak. Olahraga rahang atau memamah biak, eh makan ding. Di sepanjang pantai Tambakrejo ini, banyak warung warung yang menyediakan makanan sejenis, yaitu ikan bakar dan segala masakan khas anak pantai (seafood). Ikan Bakar disini lumayan enak dan enggak mahal. Dengan duit Rp130,000.00, aku sudah bisa memesan 6 porsi ikan bakar dan es teh manis. Wenak dan murah (meski enaknya tidak istimewa). Minumannya juga bervariasi, ada es degan klamud (kelapa muda) ataupun softdrink.

img_5450

Di pantai ini, ternyata ada pasar ikannya loh. Tak jauh dari warung warung ikan bakar, jalan ke sebelah timur sekitar 300 meter, ada pasar ikan. Mungkin juga jadi TPI (Tempat Pelelangan Ikan). Karena aku tiba disini sore hari, tidak kelihatan apakah pasar ini juga berfungsi sebagai TPI. Ikan ikan yang dijual disini antara lain Tongkol, Tengiri, Tuna, bahkan Hiu. Kebanyakan sudah diasap, biar awet. Mungkin kalau pagi masih banyak ikan segar disini. Harga ikan tongkol asap per ekor 25ribu ukuran sedang dan potongan ikan tongkol per potong 7ribu untuk sekali makan, serta ada lagi yang lain misalnya iwak pe (ikan pari). Silakan coba kalau mau bawa oleh oleh dari pantai ini. Nayamul again.. Dan jangan segan untuk menawar dan pastikan ikan yang Anda beli sesuai pilihan dan tidak ditukar dengan ikan yang lebih jelek atau lebih kecil. Kemarin, emakku beli ikan asap itu, ternyata dengan alasan dihitung dan dibawa ke belakang, ternyata yang dibawa pulang kualitasnya tidak sebagus display. Moga moga enggak ditipu aja. Gak asyik kalo sudah main tipu tipu.

img_5455

 img_5452

Sebelum gelap datang, akupun segera meninggalkan pantai Tambakrejo. Berbahaya kalau hari gelap dan kita masih di perjalanan. Karena jalan yang terjal, menanjak dan kadang curam, sempit serta penerangan yang tidak ada plus ditambah dengan jurang di pinggir jalan yang sangat dalam, akan menjadi sangat berbahaya jika malam telah tiba. Sebaiknya sebelum jam 17.00 WIB, aku sarankan sudah segera meninggalkan wilayah terpencil nan eksotis ini. Luangkan waktumu datang kesini. (bersambung).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: