Oleh: Iwan | 20 Januari 2016

Tour D’Java (Bagian 3 | Habis)


Tulisan ini merupakan tulisan terakhir dari rangkaian perjalanan akhir tahun 2015ku di Jawa, baik Jawa Barat, Jawa Tengah dan Yogyakarta serta Jawa Timur. Bagian terakhir ini aku akhiri di kota Batu, namun sebelum berakhir di Batu Malang, terlebih dahulu aku singgah ke pantai di Malang Selatan, yaitu Pantai Sendang Biru dan Pulau Sempu. Sendang Biru dan Pulau Sempu adalah sebuah pantai dan pulau yang terletak di Kabupaten Malang bagian selatan, dengan ombak yang ganas bergulung gulung dan suasana yang memanjakan mata bagi para penikmatnya. Pantai Selatan memang indah dengan segala misterinya.

Perjalanan dimulai lagi dari Kertosono setelah selesai mengunjungi Kota Blitar dan Pantai Tambakrejo di Blitar bagian selatan. Hari Selasa tanggal 29 Desember 2015, aku berangkat ke Surabaya sore hari jam 15.00 WIB dengan mengambil rute jalur bis antar kota, Kertosono – Surabaya melalui jalan tol baru Kertosono  – Jombang dengan pintu masuk di Bandar Kedungmulyo di sebelah timur Kali Brantas. Kota Kertosono sendiri terletak di simpang tiga perbatasan antara Kabupaten Kediri, Kabupaten Jombang dan Kabupaten Nganjuk. Terletak di pinggir sungai Brantas, dimana dahulu kala Gajah Mada dan anak buahnya sering maen ke Kertosono untuk hang out. Katanya….

 

Perjalanan dari Kertosono – Surabaya sore itu diwarnai dengan mendung dan gerimis. Sampai di Mojokerto, hujan turun dengan lebatnya. Sampai di rumahku Surabaya, kerjaan sudah menunggu, apalagi kalo bukan bersih bersih di kos kos-an. Kos? iya.. keluargaku punya kos kosan di Kedungturi selatan Pabrik Baja Ispat Indo Medaeng. Jadi, sore itu ada sedikit pekerjaan untuk menguras tandon air yang berlumut dan berkerak karena lama tidak dibersihkan. Setelah membersihkan tandon air karena ada keluhan dari penghuni kos, sore hari aku hanya beristirahat di rumah. Rencananya, aku akan berangkat ke Malang dinihari, supaya nanti sampai di Sendang Biru bisa tiba pagi hari. Menghindari macet dan jalan yang padat saja sih sebenarnya.

depot gubeng pojok

Warung Sederhana Gubeng Pojok Surabaya

Sebelum berangkat ke Sendang Biru, jam 22.30 aku mampir dulu mengisi amunisi sekaligus sambang ke warung favoritku di dekat Stasiun Gubeng Surabaya, satu warung legendaris yang sepertinya arek arek Suroboyo cukup paham saking terkenalnya, yaitu Warung Sederhana Gubeng Pojok. Menu favoritku disini adalah Pecel Lele dan Soda Gembira. Kenapa harus pecel lele? kan itu makanan standar saja? Jawabnya ada pada sambelnya.. Sambel mentah dengan warna yang merah dan kucuran jeruk nipis yang langsung disajikan di cobek. Biasanya sih, 2 porsi ludes… Cobain deh kalo gak percaya. Apalagi minumnya soda gembira, dengan gelas jumbo dan gula setrup berwarna merah, hembok…, makjrott rasane. Warung Sederhana Gubeng Pojok ini adalah warung makan yang buka 24 jam dengan menu umum Jawa Timuran dengan rasa hampir semuanya enak. Ada Rawon, Soto, Penyetan, Mie, Nasi Goreng dll. Dinamakan Gubeng Pojok, karena memang warung ini terletak di pojokan Stasiun Gubeng Surabaya. Soal harga, jangan khawatir. Suroboyo gak onok seng larang, kecuali seng larang. Hahay!!

Sehabis makan, aku berangkat dari Surabaya jam 01.00 dinihari, mobilpun meluncur menembus sepi dan gelapnya jalan tol Surabaya – Gempol. Karena kekenyangan, mata mendadak menjadi berat dan mengantuk poll!. Tidak kuat menahan kantuk, terpaksa aku masuk Rest Area di KM 26 Tol Surabaya – Gempol ini. Kuparkir mobil di RA di sekitar minimarket dan tiba-tiba aku langsung menghilang.. #clingg. Tidak butuh waktu lama untuk berpindah ke alam mimpi.

Puas ngorok dan ngecess di Rest Area, jam 05.00 WIB aku terbangun dari alam mimpi. Setelah cuci muka dan sholat Subuh, kupacu lagi mobilku menuju arah selatan. Hari masih cukup gelap dan hawa terasa dingin meski tanpa AC saat jendela mobil kubuka. Tol Gempol – Malang yang mulus dan tanpa hambatan, membuat perjalanan sangat nyaman dan cepat. Jalan yang belum terlalu padat, membawaku sampai kota Malang tidak lebih dari 1 jam. Dari Malang, aku ambil rute ke kiri dan melewati Kota Tua. Lurus ke selatan.

Sambil melihat pemandangan di sepanjang jalan, aku teringat saat pertama kali pergi ke Pantai Sendang Biru di tahun 2001, ketika ikutan Touring Motor Honda C70 dari Klub Holobis Kuntul Baris C70 Surabaya. Aku ingat ingat rute ini, tapi ternyata tidak banyak memori lain yang tersisa. Yang masih aku ingat adalah waktu itu mampir di perumahan Turen di rumah salah satu member klub C70 Malang Selatan. Oya, Turen ini adalah salah satu Kota Kecamatan di Kabupaten Malang dimana terdapat Industri Strategis Nasional yaitu PT. Pindad (Perindustrian Angkatan Darat), sebuah Pabrik Senjata Nasional yang sangat terkenal. Menurut Wikipedia, sejarah PT. Pindad berawal pada tahun 1808 didirikan sebuah bengkel peralatan militer di Surabaya dengan nama Artillerie Constructie Winkel (ACW), bengkel ini berkembang menjadi sebuah pabrik dan sesudah mengalami perubahan nama pengelola kemudian dipindahkan lokasinya ke Bandung pada tahun 1923. Sejak saat itu PT. PINDAD berubah menjadi sebuah industri alat peralatan militer yang dikelola oleh Angkatan Darat. PT. PINDAD berubah status menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan nama PT. PINDAD (Persero) pada tanggal 29 April 1983, kemudian pada tahun 1989 perusahaan ini berada dibawah pembinaan Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS) yang kemudian pada tahun 1999 berubah menjadi PT. Pakarya Industri (Persero) dan kemudian berubah lagi namanya menjadi PT. Bahana Pakarya Industri Strategis (Persero). Itu sih yang aku catut dari Wikipedia.

Dari Turen, perjalanan masih cukup jauh untuk sampai ke Sendang Biru. Namun tidak begitu terasa, karena jalanan yang meliuk liuk di perbukitan dan pemandangan yang asyik nan mendebarkan, ada di depan mata. Jurang jurang yang dalam dan jalan yang berkelok kelok, memacu adrenaline ini. Seperti kondisi di pantai selatan Jawa Timur pada umumnya, kontur daerah ini berupa perbukitan, dengan jalan kecil yang kadang harus antri untuk berbagi jalan. Disarankan agar berhati hati dan tidak memacu kendaraan di atas kecepatan yang dianjurkan. Dalam arti, jangan ngebut lah.

sendang1

Pulau Sempu (photo: setiatransport.com)

Ketika hari sudah menjelang siang, sampailah aku di pintu masuk pantai Sendang Biru yang terletak di Desa Tambakrejo Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang. Jaraknya sekitar ±70km dari Kota Malang. Pantai ini tepat berhadapan dengan Pulau Sempu, hanya terpisahkan oleh Selat Sempu yang sempit dan dengan panjang sekitar 4 kilometer. Di selat ini cocok digunakan untuk berperahu atau olahraga air lainnya karena lokasinya terlindung oleh Pulau Sempu. Oleh karena itu, biasanya pantai ini digunakan sebagai pintu masuk menuju Pulau Sempu yang terkenal dengan kealamiannya. Adanya Pulau Sempu menjadi daya tarik sendiri Pantai Sendangbiru. Pulau Sempu, merupakan Cagar Alam yang berdanau tawar penuh ikan lele di tengah hutannya dan juga danau air laut. Salah satu daya tarik pantai ini adalah pasar ikan di tempat pelelangan ikan (TPI) dan wisata naik perahu bermesin diesel berkeliling pantai.

img_5515

img_5508

img_5511

Pemandangan di Pantai Sendangbiru cukup menarik. Sebenarnya pasirnya putih yang bersih dan air lautnya yang biru jernih menjadikan pemandangan yang indah. Kapal nelayan yang berwarna-warni bersandar rapi di tepi pantai. Kapal tersebut tidak hanya digunakan sebagai sarana mencari ikan saja, namun juga disewakan untuk wisatawan. Anda bisa menyewa kapal tersebut untuk berkeliling di sekitar pantai. Biaya yang dipatok tidak terlalu mahal, hanya Rp 100.000 – 150.000 untuk kapal motor dan Rp 50.000 untuk kapal yang didayung. Di tengah laut, Anda bisa melihat ke bawah. Di sana pemandangan bawah laut jelas terlihat. Ikan-ikan kecil yang berenang di sela-sela karang membuat pengalaman Anda mengunjungi Pantai Sendangbiru tidak akan terlupakan. Perahu bisa dinaiki maksimal sampai 12 orang. Keberadaan Pantai Sendangbiru yang terkenal itu, tidak bisa lepas dari adanya sendang (sumber mata air) di bawah bukit yang airnya berwarna biru. Sendang itulah yang menjadi cikal bakal pantai tersebut dinamakan Sendangbiru hingga saat ini. Letak sendang sekitar 1 kilometer dari arah barat pantai. Dari pantai naik ke perkampungan menuju jalur lintas selatan (JLS). Di sebelah kiri JLS dari arah pantai terdapat jalan setapak menuju bawah bukit. Di situlah terdapat sumber air yang luasnya antara 10 x 8 meter dengan kedalaman 2,5 meter. Warna airnya biru. Terdapat dua sendang di kawasan tersebut. Selain Sendangbiru juga ada Sendanggambir. Namun debit air Sendangbiru lebih besar. Dari dua sendang itulah warga kawasan Sitiarjo dan sekitarnya bergantung. Disebelah barat ada Pantai Bajulmati dan Pantai Tiga Warna, yang letaknya paling hanya 500 meter dari Pantai Sendang Biru. Disini juga ada TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Pondok Kakap yang dibangun mulai tahun 1980 – 1989. Cukup lama juga. Disini juga terdapat Goa China, yang menurut Bapak Tukang Perahu, dinamakan Goa China karena ada orang China yang mati disitu. Coba kalau yang mati orang Amerika, mungkin akan dinamakan Goa Amerika. Ada ada saja…

img_5503

Sego Lodeh Sendang Biru

Masuk ke Pantai Sendang biru, kita hanya perlu membayar Rp.5000. Untuk parkir mobil juga sama, Rp.5000 yang bisa diparkir dimana saja. Yang pertama aku cari adalah warung makan, karena sudah sangat kelaparan. Ternyata, tidak terlalu banyak warung yang ada di Sendangbiru ini, meskipun ada TPI yang banyak menyediakan ikan segar. Akhirnya setelah berkeliling dan observasi, pilihanku jatuh pada sebuah warung yang berada di depan TPI. Kecil, dan tidak terlalu banyak makanan. Sebagai orang yang terbiasa hidup di kampung, tidak ada masalah dengan menu di warung ini. Sayur Lodeh dan Sambel, itulah pilihannya. Baiklah…! Setelah berkeliling dan melihat lihat pantai dan TPI serta perahu perahu yang ditambatkan disana, aku mencoba naik perahu sekedar berputar putar ke wilayah Pantai Bajul Mati dan Goa China, yang berakhir mendarat di Pantai Pulau Sempu. Sungguh keren, pantai disini memang warnanya ada tiga. Mulai dari pantai yang berwarna putih karena pasir, agak ke tengah yang berwarna hijau, dan air berwarna biru untuk perairan yang lebih dalam. Dengan biaya Rp. 150.000,00, akupun diantar ke Pulau Sempu dan dijemput 2 jam kemudian. Tukang Perahu disini akan memberikan nomor HP-nya, untuk mempermudah penjemputan dari Pulau Sempu. Pulau Sempu, disebut juga Segara Anakan (Segoro Anakan – Jawa) yang berarti Laut Kecil.

img_5581

img_5566

Tidak terasa waktu semakin sore, matahari semakin bergerak ke Barat. Sudah waktunya aku sudahi perjalanan ini. Besok sudah penghujung tahun 2015 dan aku sudah harus kembali ke kota Malang untuk meneruskan petualangan ini. (Sudah aku ceritakan dalam tulisan, di Batu nantinya aku mengalami last minute cancellation yang sudah dibererskan oleh Airbnb). Seperti di Blitar, jangan terlalu malam meninggalkan Pantai Selatan. Jalan yang berkelok tajam, jurang menganga dan minim penerangan serta lobang lobang di aspal yang bisa membuat kita terlempar kalau tidak boleh disebut rawan kecelakaan. Hati hati kawan, Jalan masih panjang.. Jangan jalan kaki!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: