Oleh: Iwan | 18 Juli 2016

(Re)Unifikasi basi


BackdropStageSMP.jpgApa yang terbayang dalam benak, saat teman teman lama yang menghilang berpuluh puluh tahun, tiba tiba saja datang dan menerjang tembok tembok kebisuan penghalang jarak yang tebalnya melebihi Tembok Ratapan? Apakah rasa senang yang berlebihan, ataukah justru merusak kenikmatan akan keegoisan yang tertanam dalam sebuah kata yaitu kenyamanan?

Tiba tiba saja semua datang sangat cepat, seperti air bah menerjang aquarium kaca. Pecah berserakan!! Sejak bertemu dengan Deny Patria di Magelang, 23 Desember 2015 yang lalu, cikal bakal kesenangan dan sisa sisa memory masa kecil, melambungkan angan ke awan. Kawan kawan sepermainan, kalau tidak boleh dikata senasib sepenanggungan dan seperjuangan, dengan begitu saja datang secara masif dalam medium teknologi komunikasi bernama WhatsApp. Dimulai dengan saling berbagi kontak, akhirnya perkumpulan yang tadinya berisi rasan rasan, berubah dengan cepat membentuk satu ide lama, perjumpaan (kopdar atau reuni bahasa gaulnya).

Beberapa kali bertemu, entah dengan tujuan yang sama ataukah hanya sekedar menghilangkan penat dan kesan egois, kamipun setuju untuk bertemu secara massal dan resmi. Panitia telah dibentuk, dan tanggungjawab mulai dibagi. Euforia segera saja menghampiri masing masing dari kami, seperti birahi di pagi hari. Lebaran kali ini, bakal menjadi tidak biasa, karena kami sepakat untuk mengisinya dengan Reuni. Ya, Reuni Akbar teman teman SMP kami, yang mungkin absurd. Apakah ini sebuah ajang, ajang show off, ajang CLBK, atau ajang balas dendam dan ajang ajang lainnya, aku tak tahu. Bagiku, birahi reuni ini telah memberi semangat baru, yang beberapa saat seperti mati suri. Ya, semangat untuk bertemu kawan kawan lama.

Sekolah SMP kami terletak di pedalaman Jawa Timur, tepatnya di sebuah kota kecil bernama Warujayeng – Tanjunganom Kabupaten Nganjuk dan tahun kami bertemu di tahun 1987. Sebetulnya, aku lebih setuju Reuni disebut dengan nama tahun masuk yaitu Angkatan 1987. Tapi teman teman lebih condong ke tahun kelulusan, yaitu tahun 1990. Alasannya cukup masuk akal, karena biasanya Reuni dihitung dari tahun kelulusan atau alumni. Sedangkan pendapatku kalau tahun masuk, siapapun yang masuk tahun tersebut, lulus tidak lulus, terus atau tidak meneruskan, tetaplah bagian dari kehidupan dan masa lalu kami. Tapi itu tidak penting, tidak akan sepenting kehadiran teman teman masa kecilku.

Semangat kami, yang begitu menggebu untuk bisa bertemu, diwujudkan dalam beberapa kali pertemuan untuk membuat sebuah acara yang diharapkan bisa spektakuler paling tidak bagi kami. Topi mulai diputarkan agar koin koin yang bersembunyi dalam kantong kantong bank, bisa memberdayakan kami. Tidak terlalu besar memang daya kami, tapi kami tetap berusaha memberikan apa yang kami rasa bisa. Kekuatan akan rasa kebersamaan kami, menjadi gelombang dahsyat yang memberi kami nafas panjang dan daya juang sekuat gempa berskala besar. Tanggung jawab mulai dibagikan dan tim mulai bekerja.

Namun sayang,….

Ahhh… Reuni ini terlalu gampang diselewengkan. Gemerincing koin telah membuat sang pecundang menjadi musang berbulu domba. Menafikan kemurnian semangat kebersamaan, menggunting dalam lipatan. Apakah dia terlalu pintar merayu dan meninabobokan ataukan kami yang terlalu naif? Ataukah hal seperti ini biasa terjadi dalam kehidupan? Kejujuran telah menjadi barang langka, pertemanan tidak lagi ada artinya. Kebodohan dimana mana, bahkan kami yang menjadi korban harus berdiam tak berdaya. Mana semangatmu kawan…? Ataukah bayanganku tentang idealisme pertemanan masa kecil adalah sebuah utopia yang tidak pernah mungkin ada? Karena jujur saja, aku mengenal mereka dua setengah dasawarsa yang lalu. Apakah saat ini mereka masih sama seperti dulu, naif dan lugu, ataukah sekarang telah berubah seperti banyak terjadi pada orang orang yang telah beranjak dewasa?

Aku malu. Dan tidak mau lagi ber(Re)uni lagi. Tidak ada artinya… 26 tahun tidak bertemu, akhirnya hanya dibenturkan pada kenyataan bahwa kami harus saling mengakhiri keindahan pertemuan ini dengan caci maki dan sumpah serapah karena dikibuli.

Ya, Reuni SMP-ku telah berantakan, nasi telah menjadi bara api.. kerakusan! Jika saja ada reuni lagi, dengan terpaksa aku bersikap “Katakan Tidak Pada (Re)Uni


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: